Monday, November 12, 2007

Temanggung

TEMANGGUNG


TEMPAT WISATA

TAMAN REKREASI KARTINI
Bagi mereka yang sedang melakukan perjalanan lewat Kota Temanggung sangat ideal untuk singgah disebelah timur kota ini.TAMAN REKREASI KARTINI
Suasana cukup menenangkan didukung fasilitas seperti kolam renang rumah makan pujasera, arena basket, bola volly, dan sepak bola. Kawasan ini menjadi pusat hiburan masyarakat saat digelar Pekan Syawalan selama 7 hari setiap perayaan Idhul Fitri dimulai di hari ke dua. Tempat ini juga digunakan sebagai tempat singgah angkutan travel antar kota.
CURUG SURODIPURO
Dikenal juga dengan CURUG TROCOH Terletak di desa Tawangsari kecamatan Tretep berjarak 38 km arah barat laut dari kota Temanggung. Kawasan ini berhawa sejuk dengan panorama pemandangan alam pedesaan. Tempat ini ibarat saksi bisu kilasan sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro ketika membuat strategi gerilya melawan Belanda. CURUG SURODIPURO memiliki keistimewaan yaitu ada 5 terjunan bertingkat, airnya bersih dan segar, tak pernah surut. Disekitarnya terdapat berbatuan alam untuk duduk santai sambil menikmati indahnya air terjun dengan ketinggian sangat terjal tersebut.
CANDI PRINGAPUS
Arca-arca berartistik Hindu yang erat kaitanya dengan Dewa Ciwa menandakan bahwa Candi Pringapus bersifat Hindu Sekte Ciwaistis. Dibangun pada tahun 850 Masehi dan merupakan Replika Mahameru sebagai perlambang tempat tinggal para dewata. Hal ini terbukti dengan adanya adanya hiasan Antefiq dan Relief Hapsara-hapsari yang menggambarkan makhluk setengah dewa. CANDI PRINGAPUS terletak di desa Pringapus Kecamatan Ngadirejo berjarak 22 km arah barat laut dari kota Temanggung. Pada libur banyak dikunjungi anak sekolah, turis domestik dan juga mancanegara seperti Amerika, Belanda, dan Belgia.
JUMPRIT
(PENGAMBILAN AIR SUCI WAISAK)
Jumprit merupakan obyek wisata spiritual di lereng gunung Sindoro dengan panorama alam pegunungan dan bumi perkemahan berhawa sejuk. Tempat ini erat hubungannya dengan legenda Kyai Nujum Majapahit yang tertulis dalam serat Chentini. Didekat mata air jumprit terdapat makam Ki Jumprit.
JUMPRIT (PENGAMBILAN AIR SUCI WAISAK)) peziarah melakukan semedi yang biasanya dilanjutkan dengan mandi kungkum, membuang celana dalam, BH sebagai perlambang menghilangkan Sial. Air jumprit juga digunakan sebagai Air Berkah untuk upacara Tri Suci Waisak setiap tahunya. Terletak disebelah barat kecamatan Ngadirjo, jarak dari kota Temanggung 28 km. Jalan sampai lokasi sudah diaspal sehingga perjalanan cukup menyenangkan sambil menikmati potensi Agrowisata. Disediakan wisma untuk menginap dan anda dapat menikmati udara dan dapat menikmati udara segar serta indahnya pemandangan matahari terbit.
NDAKI GUNUNG SUMBING SINDORO
Mendaki gunung merupakan wisata petualangan menarik. Penuh tantangan pada saat mendaki bukit-bukit terjal. namun juga penuh dengan keindahan alam puncakdengan panorama indah saat terbitnya matahari pagi. PENDAKIAN GUNUNG SUMBING dilakuakn pada malam 21 bulan Ramadhan (malem selikuran). Sedang PENDAKIAN GUNUNG SINDORO bertepatan dengan malam 1 asyuro dipastikan ribuan orang utamanya pemuda pecinta alam melakukan pendakian karana kegiatan ini merupakan tradisi. Sebagian dari mereka bermaksud berziarah ke makam Ki Ageng Makukuhan di puncak Sumbing, yang diyakini sebagai orang pertama yang singgah di kedu dan menanam Tembakau.
GOWA LAWA
Di lembah sungai Bodri di tapal batas Kabupaten Temanggung - Kendal terdapat sebuah bukit terjal yang dibawahnya berlobang menganga dari bebatuan kapur dengan stalagtit dan stalagmit yang berpotensi sebagai ajang penelitian. Disana memang banyak kelelawar karena dulunya goa ini jarang dikunjungi kecuali yang ingin bertapa. Beberapa waktu lalu pengembangan obyek ini dirintis oleh Mahasiswa KKN dari Akademi Pariwisata Semarang. GOWA LAWA terletak di desa Lempuyang Kecamatan Candiroto, lokasinya mudah dijangkau, jaraknya sekitar 300 meter dari jalan raya Temanggung - Kendal. Ada tradisi unik masyarakat sebagai pendukung yakni tradisi 'Lampet Dhawuhan'. Pada acara itu siapapun yang menjabat Kepala Desa harus berkumur air sungai kemudian berjalan di pematang sawah dan menyemburkan kumuran itu ke sawah tempat bertanam padi.
CANDI & PRASASTI GONDOSULI
Candi dan Prasasti Gondosuli di desa Gondosuli Kecamatan Bulu, sekitar 13 km ke arah Barat dari kota Temanggung, merupakan saksi bisu masa kejayaan Dinasty Syailendra. Dikawasan ini terdapat reruntuhanCANDI GONDOSULI berarsitek Hindu yang dibangun oleh anak raja Syailendra bernama Rakai Rakarayan Patapan Pu Palar yang juga adik ipar raja Mataram Rakai Garung.PRASASTI GONDOSULI ditulis dengan huruf Jawa Kuno sebanyak lima baris dan berisi tentang filsafat dan ungkapan kemerdekaan serta kejayaan Syailendra.
CURUG LAWE
Panorama alam sekitar Curug Lawe di Desa Muncar Kecamatan Gemawang Kabupaten Temanggung cukup memikat. Perjalanan menuju lokasi cukup lancar dengan jarak tempuh sekitar 26 km dari kota Temanggung ke arah Utara. Jatuhnya air dari tebing curam itu bagaikan benang-benang putih yang dalam bahasa jawa disebut 'Lawe'. Jika lagi musimnya, disekitar obyek juga ada tanaman buah alam yang dikenal dengan nama buah 'Cendul' bisa dipetik secara gratis sebagai pelepas dahaga. Kenda raan bisa diparkir dititipkan di halaman rumah penduduk, kemu dian berjalan menyu suri jalan setapak menuju lokasi. Bagi yang suka petualangan maka obyek wisata ini cocok. Didekat grojogan CURUG LAWE juga ada mata air panas yang bisa dimanfaatkan untuk obat sakit kulit.
MONUMEN BAMBANG SUGENG
Obyek wisata ini bernuasa sejarah perjuangan bangsa Indonesia pada waktu perang Kemerdekaan. Tempatnya berada di sebelah bukit kecil di sebeleh timur terminal bus kota Temanggung. Dikomplek monumen peringatan perjuangan Mayjen (Purn) Bambang Sugeng (alm) ini, MONUMEN BAMBANG SUGENG terdapat batu prasasti yang ditulis bala tentara Jepang yang ditawan pasukan Bambang Sugeng di Temanggung. Tulisan dengan huruf Kanji itu berbunyi "Wampo Daiwa Daigetzu" yang artinya "Seloeroeh Doenia Sekeloearga" juga dipahatkan pada batu yang sama. Tempat ini juga sering dikunjungi wisatawan Jepang terutama dari keluarga bekas tentara Jepang yang pernah ditawan merasa berhutang budi pada Bambang Sugeng karena pada waktu itu diperlakukan dengan baik.
PIKATAN INDAH
Kawasan Pikatan Indah Temanggung akan diperluas dan dikembangkan sehingga menjadi obyek wisata yang menarik untuk dinikmati. Pengembangan Pikatan Indah yang direncanakan pelaksanaannya tahun 2003- 2004 itu akan meliputi perluasan areal, pembangunan Wisata Olahraga, Panggung Hiburan, Arena Bermain Anak, Kebun Binatang Mini, Water Boom dan Hutan Wisata. Suasana yang sejuk, tenang dengan panorama alam yang memikat membuat anda dapat menikmati suasana berekreasi dengansantai dan nyaman. Kolam renang Pikatan Indah dengan air yang jernih, bersih dan alami, membuat anda semakin terkesan. TAMAN REKREASI PIKATAN INDAH juga tersedia warung makan dengan menu khas antara lain ikan bader goreng, pecel lele, dan gula kacang. Obyek wisata ini terletak + 2 Km disebelah selatan kota Temanggung. Bisa dicapai dengan angkutan umum, angkutan tradisional dokar, dengan kondisi jalan aspal yang memadai.
METEORIT
Jatuhnya meteor di ladang penduduk Desa Wonotirto Kecamatan Bulu, tanggal 11 Februari 2001 di barengi suara gemuruh dan ledakan dahsyat, merupakan peristiwa alam yang langka dan menarik untuk diteliti. Untuk itu Sekolah Tinggi Sains dan Teknologi AKPRIN Yogyakarta melakukan penelitian dan kemuadian membangun MONUMEN METEORIT dilokasi jatuhnya benda angkasa tersebut. Kini Monumen ini menjadi Obyek Wisata yang menarik untuk dikunjungi didukung sejuknya suasana alam sekitar berlatar belakang pemandangan Gunung Sumbing.

Bagi yang suka menu ketupat tentu sudah mengenal " KUPAT TAHU " Temanggung. Makanan ini pernah diboyong ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta dan nyaris kekurangan persediaan, karena laris dibeli pengunjung TMII. Warungnya ada di berbagai tempat di Temanggung , misalnya di Pandean, Mungseng, Jampirejo, enak disantap hangat di tempat.

Menu dari daging kambing juga dikenal dengan label " BRONGKOS KIKIL ". Lezat disantap hangat di Pujasera Kowangan atau di Pasar Menggoro Kecamatan Tembarak, sekitar 7 km ke arah Selatan dari kota Temanggung .Masakan ini biasanya berupa daging dari kaki dan bagian kepala kambing dan siap disuguhkan mulai jam 10.00 WIB, karena itu cocok untuk saat-saat makan siang.

Bakso memang banyak dijumpai dimana-mana . Tetapi yang satu ini benar khas dari Temanggung . Namanya " BAKSO ULEG ". Sebab sambalnya langsung diuleg dari cabai segar ke dalam mangkuknya dan bumbunya juga khas sehingga memiliki rasa khas Bakso Uleg. Makanan ini juga lebih enak disantap hangat di warungnya di depan BRI Cabang Temanggung dan kios Kaki Lima Rolikuran. Buka mulai jam 14.00 WIB sampai malam.

Criping Pedas dari Gandokan Kranggann, 4 Km kearah timur dari kota Temanggung cocok untuk oleh-oleh. CRIPING PEDAS dikemas masih mentah ( belum digoreng ) dalam plastik satu kilogram atau setengah kilogram. Atau bisa juga membeli kemasan yang sudah digoreng di kios makanan sebelah BRI Unit Kranggan . Rasanya gurih, enak,agak pedas dan harganya murah.

Selain Criping Pedas juga dikenal enak dan gurih, cocok untuk oleh-oleh , yaitu CRIPING TALAS. Terbuat dari Talas tanpa campuran bahan pengawet. Diproduksi di Desa Manding Kecamatan Temanggung , sekitar 2 Km ke arah Barat dari kota Temanggung.Wisatawan yang ingin membeli langsung ke perajinnya, sewaktu-waktu bisa datang ke desa Manding. Criping Talas ini bisa dipesan dalam kemasan mentah maupun matang.

MALEM JEMUAH PAHINGAN MENGGORO
Malam belum begitu beranjak,, desau angin gunung menerobos rimbun dedaunan, menerpa tubuh menghadirkan dingin. Kadang, kabut yang menyelimutu kaki gunung, yang mungkin sebenarnya mampu mengusik keasyikan dalam kekhusukan orang-orang yang sedang "menekung manengku puja". Bahkan, hiruk pikuknya pengunjung yang ditingkah ramainya penjaja makanan, yang juga sedang berkeinginan memuaskan wisatawan, dengann menu utama "Brongkos Kikil Tembarak", ternyata juga tidak mampu mengalihkan perhatian wisatawan yang sedang menjalankan 'Prosesi Ritual" di MAsjid Jami' Desa Menggoro Kecamatan Tembarak Kabupaten Temanggung. Mujahadah, baik secara perorangan maupun kelompok, dilakukan oleh wisatawann minaat khusus ini. Berdzikir kepada Allah SWT, secara khusuk,, penuhh konsentrasi, hanya ditujukan kepada_Nya, Sang Maha Pencipta, Maha Pemurah, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Sikap dan perilaku demikian, memang sudah seharusnya menjadi pedoman bagi setiap makhluk_Nya. Termasuk juga wisatawan Malem Jemuah Pahingan, yang mengkaitkan dengan Nadzar tertentu. Hal ini mengingat bahwa hanya kepada Allah SWT tempat yang tepat untuk meminta, dan hanya berkat kemurahan_Nya lah, makhluk terutama manusi mendapatkan anugerah_Nya, karena hanya Sang Khalik yang Maha Pemberi. Dilihat dari warna dialek kebahasannya, dapat diketahui bahwa pengunjung/wisatawan Malem Jemuah Pahingan Menggoro Tembarak itu, tidakk hanya berasal daari sekitar Temanggung saja.
Lewaaat pengamatann Sosiolanguade, dapat diketahui mereka ada yang berasal daari Wonosobo, Kendal, Magelang, Semarang, Surakarta, Yogyakarta. Bahkan ada beberapa yang berasal dari Jakarta dan beberapa kota di Jawa Barat serta Jawa Timur. Dengan demikian, "Popularitas" Event Malem Jemuah Pahingan di Komplek Masjid Jami' Desa Menggoro Kecamatan Tembarakk Kabupaten Temanggung, gemanya membahana di seantero Tana Jawa. PERCIKAN HISTORIES BACKGROUND Nama ataupun istilah Malem Jemuah Pahingan Menggoro Tembarak adalah suatu kesatuan daari beberapa pengertian. Malem Jemuah pahing, adalah Kamis Malam menurut hitungan hari dan legi berdasarkan hitungan pasaran pada penanggalan Jawa. Sedangkan Menggoro adalah nama wilayah administratip desa di Kecamatan Tembarak Kabupaten Temanggung (bahkan sebagai ibu kota kecamatan), tempat terjadinya prosesi tradisi budaya tersebut di lokasi atau komplek Masjid Jami'. Implikasi daari arti tersebut adalah bahwa pemilihan hari Kamis Malam Jumat secara cultural sangat erat kaitanya dengan upaya pendekatan diri kepada Allah SWT lewat doa dan permohonan. Oleh karena itu, prosesi ritual Malem Jemuah Pahingan Menggoro Tembarak, harus diberi makna "pendekatan diri kepada Sang Maha Pencipta", yaitu setiap aktivitas dari permohonan, hanya ditujukan kepada Allah SWT. Sebagai bahan pertimbangan tinjauan histories, sebenarnya terdapat dua sumber, yaitu sumber Artefaktual dan Teksrual. Data-data artefaktual dapat ditunjukan dengan adanya :
  1. Bentuk dan struktur bangunan masjid (utamanya bagian dalam), mengindikasikan pola arsitektur masa pertumbuhan islam di Jawa;
  2. Dua buah patung nandini ( patung sapi betina ) yang sudah terpotong kepalanya, terletak di halaman masjid, menunjukan bahwa kawasan itu pada masa silam, ada keterkaitannya dengan kultur agama sebelum islam yakni hindu.
  3. Dua buah pohon tanjung dihalaman depan masjid, yang dulu ( mestinya ) juga ada pohon sawo kecik dan kelor. Hal ini menandakan bahwa penanaman dan penempatan pohoon dan beberapa benda dikompleks masjid, mempertimbangkan konsep maknawi dalam kebudayaan Jawa.
  4. Sengkalan ( rangkaian kata yang menunjukan angka tahun ) berbunyi : Rasa Brahmana Resi Bumi yang tertulis digapura masuk halaman masjid, yang apabila dimaknai merupakan rangkaian makna angka tahun 1786. adapun menurut hitungan tahun saka atau Masehi masih perlu penelitian lebih lanjut. hanya saja, kebiasaan dalam budaya jawa, penulisan sengkalan pada umumnya berdasarkan hitungan tahun saka sehingga 1786 saka dikurangi 78 ( selisih tahun saka dengan masehi ) menjadi 1722 Masehi, masa penjajahan belanda. Bentuk gapura berornamen garis gaya bangunan belanda sehingga agak mendekati kebenaran bahwa pembangunan gapura tersebut terjadi pada masa penjajahan belanda.
  5. Melihat latar belakang sejarah yang demikian menunjukan bahwa eksistensi masjid Menggoro sudah ada sejak masa pertumbuhan islam di Jawa sehingga dapat dikatakan bahwa Masjid Menggoro Tembarak Kabupaten Temanggung termasuk 9 masjid tertua di Jawa.
Data yang bersifat tekstual yang berupa antara lain seperti : prasati, babad, catatan harian, kisah perjalanan, surat-surat keputusan dan lainya, sampai kapan persisnya Masjid Menggoro berdidi, mengalami kesulita sehingga hanya berdasarkan dugaan, setelah menganalisa keterkaitannya dengan sosio cultural yang ada. Beberapa pendapat tokoh masyarakat setempat, yang juga berdasarkan cerita turun menurun atau berupa legenda, namun dapat juga dijadikan salah satu acuan pemotretan "masa silam" Masjid Menggoro, diterapkan bahwa keberadaan Masjid Menggoro ada yang menceritakan dalam 2 (dua) versi :
  • Terkait dengan tokoh Nyai Brintik, sebagai penyebar agama Islam di wilayah itu, yang sekarang konon makamnya ada 2 (dua) tempat yakni di Jogopati Desa MEnggoro dan satunya di Komplek Makam Sewu atau Komplek Makam Sewu atau Komplek Makam Panembahan Bodho yang terletak di Kabupaten Bantul di Propinsi DIY.
  • Dihubungkan dengan tokoh Sunan Kalijaga salah satu anggota wali sanga di masa Keraton Demak Bintoro. Dalam salah satu perjalanan syiaar Islam di Jawa Tengah sampai di wilayah ini, diduga juga mendirikan masjid, yang diyakini sekarang sebagai Masjid Jami' Menggoro.
  • Sumbang pendapat yang lain dari Bapak Sudjiyanto, juga penduduk Menggoro yang juga mendapatkan cerita dari para sesepuh, bahwa " dulu apabila bedhug Masjid Demak di tabuh maka akann terdengar sampai dengaan Masjid Menggoro". Hal ini semakin menguatkan pendapat bahwa keberadaan Masjid Menggoro Tembarak, erat sekali kaitnya dengan pusat kebijaksanaan perkembangan agama Islam pada masa pertumbuhannya di tanah Jawa, yaknii Demak Bintoro di bawah kendalli Sultann Patah (raja pemeluk Islam pertama di Jawa) dan dibawah pertimbangan para wali.Diterangkan lebih lanjut oleh Bapak Sudjiyanto, yang mantan Kades Menggoro in, bahwa upaya penyelamatan bangunan dilakukan dengan renovasi tanpa menghilangkan ciri khas bangunan pernah dilakukan pada :
    • Tahun 1932 yang dipimpin langsung oleh Bupati Temanggung Cokrosoetomo
    • Tahun 1958 Juga dilakukan Pemugarann
    • Tahun 1989 dilakukan renovasi, bahkan pada tahun ini pula, adanya "Mimbar Khotbah" yang serupa dengan mimbar di keraton Ngayogyakarta, karena sudah usang dan rusak maka diganti dengan yang baru.

    Upaya-upaya penyelamatan ini merupakan hal yang perlu dilestarikan, agar keberadaan masjid tersebut sebagai situs, tidak kehilangan unsur-unsur pendukung histories, yang merupakan ciri khas dan mempunyai keunikan langka.

    POTENSI ATRAKSI BUDAYA

    Apabila dipotret lebih mendalam baik sisi budaya maupun pariwisata, keberadaan Masjid Jami' Menggoro berserta Malam Jemuah Pahingannya, dapat dikemukanan sebagai berikut :
    • Masjid Menggoro adalah bangunan lama, sesuai citra masyarakat. Terkait dengan perkembangan Islam pada masa pertumbuhan ditanah Jawa.
    • Keterkaitannya dengan budaya Demak Bintoro sangat erat.
    • Jemuah Pahingan dan pasar, adalah aktifitas atraktif/kebiasaan menarik.
    • Event yang memungkinkan untuk diberdayakan agar menjadi salah satu sumber pendapatan desa atau dusun ataupun masyarakat, dengan penanganan secara terorganisir dan profesional.
    • Sarana menuju potensi wisata budaya ini sangat mudah, ini merupakan kekuatan positif untuk pengembangannya lebih lanjut. Tidak berlebihan bila kiranya apabila saya berpendapat terhadap eksistensi Masjid Jami' Menggoro Tembarak beserta Malem Jemuah Pahingannya sebagai citra tradisi masyarakat : " Sebagai situs kultural, harus dilestarikan dengan mempertimbangkan aspek historisnya dan sebagai salah satu potensi atraksi wisata budaya, layak untuk dikembangkan demi peningkatan kesejahteraan ".

    0 Comments:

    Post a Comment

    << Home