Saturday, November 19, 2005

Bali - Sejarah - Seni - Budaya

Arsitektur Tradisional Bali
Tradisi dapat diartikan sebagai kebiasaan yang turun temurun dalam suatu masyarakat yang merupakan kesadaran kolektif dengan sifatnya yang luas, meliputi segala aspek dalam kehidupan. Arsitektur tradisional Bali dapat diartikan sebagai tata ruang dari wadah kehidupan masyarakat Bali yang telah berkembang secara turun-temurun dengan segala aturan-aturan yang diwarisi dari jaman dahulu, sampai pada perkembangan satu wujud dengan ciri-ciri fisik yang terungkap pada rontal Asta Kosala-Kosali, Asta Patali dan lainnya, sampai pada penyesuaian-penyesuaian oleh para undagi yang masih selaras dengan petunjuk-petunjuk dimaksud. Arsitektur tradisional Bali yang kita kenal, mempunyai konsep-konsep dasar yang mempengaruhi tata nilai ruangnya.
Konsep dasar tersebut adalah: - Konsep hirarki ruang, Tri Loka atau Tri Angga - Konsep orientasi kosmologi, Nawa Sanga atau Sanga Mandala - Konsep keseimbangan kosmologi, Manik Ring Cucupu - Konsep proporsi dan skala manusia - Konsep court, Open air - Konsep kejujuran bahan bangunan Tri Angga adalah konsep dasar yang erat hubungannya dengan perencanaan arsitektur, yang merupakan asal-usul Tri Hita Kirana. Konsep Tri Angga membagi segala sesuatu menjadi tiga komponen atau zone: - Nista (bawah, kotor, kaki) - Madya (tengah, netral, badan) - Utama (atas, murni, kepala) Ada tiga buah sumbu yang digunakan sebagai pedoman penataan bangunan di Bali, sumbu-sumbu itu antara lain: - Sumbu kosmos Bhur, Bhuwah dan Swah (hidrosfir, litosfir dan atmosfir) - Sumbu ritual kangin-kauh (terbit dan terbenamnya matahari) - Sumbu natural Kaja-Kelod (gunung dan laut) Dari sumbu-sumbu tersebut, masyarakat Bali mengenal konsep orientasi kosmologikal, Nawa Sanga atau Sanga Mandala. Transformasi fisik dari konsep ini pada perancangan arsitektur, merupakan acuan pada penataan ruang hunian tipikal di Bali.

Bangunan Hunian
Hunian pada masyarakat Bali, ditata menurut konsep Tri Hita Karana. Orientasi yang digunakan menggunakan pedoman-pedoman seperti tersebut diatas. Sudut utara-timur adalah tempat yang suci, digunakan sebagai tempat pemujaan, Pamerajan (sebagai pura keluarga). Sebaliknya sudut barat-selatan merupakan sudut yang terendah dalam tata-nilai rumah, merupakan arah masuk ke hunian. Pada pintu masuk (angkul-angkul) terdapat tembok yang dinamakan aling-aling, yang tidak saja berfungsi sebagai penghalang pandangan ke arah dalam (untuk memberikan privasi), tetapi juga digunakan sebagai penolak pengaruh-pengaruh jahat/jelek. Pada bagian ini terdapat bangunan Jineng (lumbung padi) dan paon (dapur). Berturut-turut terdapat bangunan-bangunan bale tiang sangah, bale sikepat/semanggen dan Umah meten. Tiga bangunan (bale tiang sanga, bale sikepat, bale sekenam) merupakan bangunan terbuka. Ditengah-tengah hunian terdapat natah (court garden) yang merupakan pusat dari hunian. Umah Meten untuk ruang tidur kepala keluarga, atau anak gadis. Umah meten merupakan bangunan mempunyai empat buah dinding, sesuai dengan fungsinya yang memerlukan keamanan tinggi dibandingkan ruang-ruang lain (tempat barang-barang penting & berharga). Hunian tipikal pada masyarakat Bali ini, biasanya mempunyai pembatas yang berupa pagar yang mengelilingi bangunan/ruang-ruang tersebut diatas.


Kesenian

Seni Tari
Seni tari berfungsi sebagai pengiring upacara dan upakara keagamaan di pura-pura. Setiap upacara keagamaan dianggap belum lengkap jika tidak diiringi dengan tarian. Seni tari dapat difungsikan sebagai seni wali, bebali, dan balih-balihan Detail.
Seni Kerawitan
Sama halnya dengan seni tari, seni karawitan juga merupakan seni yang digunakan untuk mengiringi upacara keagamaan. Seni tabuh/karawitan merupakan bentuk seni pertunjukan yang dominan di Bali, terutama seni tabuh/karawitan instrumental.
Seni Wali (Religius)
Yang dimaksud dengan seni wali adalah seni yang dilakukan di pura-pura atau tempat yang ada hubungannya dengan upacara dan upakara agama sebagai pelaksana upacara. Pada umumnya seni ini tidak memakai lakon.
Kesenian wali sebagai pelaksana upacara selalu dikaitkan dengan kekuatan-kekuatan niskala, yaitu untuk mendapatkan kekuatan/taksu dan keselamatan.
Seni Bebali (Ceremonial)
Seni bebali yang berfungsi sebagai pengiring upacara dan upakara keagamaan di pura-pura ataupun di luar pura pada umumnya memakai lakon. Seni tari dan seni tabuh/karawitan yang dipakai sebagai pengiring upacara keagamaan di Bali, misalnya Topeng, Gambuh, Leko, Wayang Kulit, Angklung, Semar Pegulingan, dan Baleganjur.
Seni Balih-balihan (Performance)
Seni balih-balihan adalah seni yang mempunyai fungsi hiburan di samping mempunyai unsur dan dasar seni luhur sebagai seni serius dan seni hiburan/tontonan.

Lembaga Tradisional
Jenis-jenis lembaga tradisional dalam masyarakat Bali adalah desa, banjar, subak, dan sekehe.
Bentuk lembaga tradisional atas dasar kesatuan wilayah disebut desa. Konsep desa memiliki dua pengertian, yaitu desa adat dan desa dinas. Desa adat adalah kesatuan masyarakat hukum adat di daerah Bali yang mempunyai satu kesatuan tradisi dan tata krama pergaulan hidup masyarakat umat Hindu yang secara turun-temurun dalam ikatan Kahyangan Tiga yang mempunyai wilayah tertentu dan harta kekayaan tersendiri serta berhak mengurus rumah tangganya sendiri. Landasan dasar desa adat di Bali adalah konsep Tri Hita Karana. Desa dinas adalah satu kesatuan wilayah administratif di bawah kecamatan. Konsep Tri Hita Karana adalah satu konsep yang mengintegrasikan secara selaras tiga komponen penyebab kesejahteraan dan kebahagiaan hidup yang diyakini oleh orang Bali. Ketiga komponen tersebut, yaitu :(1) parhyangan atau Tuhan yang memberikan perlindungan bagi kehidupan;(2) palemahan, yaitu seluruh wilayah lembaga tersebut;(3) pawongan adalah sumber daya manusia yang terdiri atas semua warga lembaga yang bersangkutan.

Lontar
Lontar Sebagai Salah Satu Khasanah Budaya Koleksi Kantor Dokumentasi Budaya BaliBerdirinya kantor Dokomentasi Budaya Bali tidak bisa dilepaskan dengan upaya penyelamatan dan pelestarian nilai-nilai budaya Bali, terutama yang tersimpan dalam bentuk lontar. Kekawatiran lenyapnya naskah lontar sebagai salah satu bentuk warisan budaya daerah cukup beralasan, karena warisan budaya tersebut yang ditulis diatas daun lontar tidak akan bertahan lama. Hal ini disebabkan oleh Keadaan iklim di Indonesia yang berubah-ubah sehingga mempercepat proses pelapukan. Di samping itu peralatan yang dapat digunakan untuk melindungi naskah agar tidak cepat rusak masih relatif sedikit jumlahnya. Selain faktor diatas, adanya penelitian-penelitian asing yang ingin memboyong naskah-naskah keluar negeri. Apabila hal ini terjadi sudah tentu nilai-nilai luhur yang terkandung dalam naskah-naskah lontar tersebut tidak bisa diwariskan kepada generasi berikutnya. Dengan adanya kenyataan ini pemerintah memperakarsai untuk menggali dan mengungkapkan nilai yang terpendam dalam naskah lontar.
Keinginan pemerintah sekaligus untuk memperkaya khasanah budaya Nasional.Proses Pembuatan dan Penyalinan Lontar di BaliPengawetan Lontar atau daun siwalan dimulai dari pemetikan daun lontar dari pohonnya sampai penyimpanan setelah ditulisi disimpan dikeropaknya. pengawetan dilakukan secara alamiah dan secara teknik kimiawi. Secara teknik alamiah biasanya dijemur pada sinar matahari, ataupun penyesuaian suhu udara sehingga tidak lembab. Hal ini dilakukan agar pori-pori air mengembang dan menguap dari daun lontar. Bendabenda yang lain dicampurkan ketika mengawetkannya. Alat-alat pengawet itu seperti ketika merebus daun lontar dipakai sindrong (rempah-rempah), bungsil (buah kelapa yang belum berair), buah padi (gabah), direndam didalam air tawar. Bahan kimiawi biasanya dipakai kapur barus.
Alat-alat bantu yang lain darimulai pemrosesan hingga lontar siap ditulisi, seperti landasan parang (pisau), Tempat menjemur, bak air, sepet (sikat dari sabut kelapa), daun traditional agar naskah lontar tidak dimakan rayap. Lontar yang telah ditulisi disimpan didalam keropak yang disebut naskah.Naskah-naskah yang tua dan langka dapat diturun sebelum babonnya (aslinya) hilang.
Lewat upaya penyalinan kedalam lontar baru, akhirnya setiap peminat dapat membuat dan memesan naskah yang diinginkan. Cara ini sudah ada pada abad ke-17, ketika naskah kekawin Ramayana yang tertua disimpan diperpustakaan Universitas Leiden. Naskah ini bernomor LOr 1790 sudah berumur tiga abad (1782 Masehi). Naskah Lain Negarakertagama temuan Brandes (1894) dari koleksi puri Cakranegara Lombok dan Calon Arang Lor 5387/5279 temuan yang sama. Rupanya Naskah yang datang ke leiden pada periode awal abad ke -20 dan akhir abad yang lalu merupakan Naskah-naskah yang tertua yang menjadi koleksi di perpustakaan Universitas Leiden.Peninggalan Lontar-Lontar Dalam Sejarah Bali KunoPulau Bali dengan corak kebudayaan yang khas telah menarik perhatian seluruh dunia terutama kalangan wisatawan dan ilmuwan. Di Bali banyak ditemukan peninggalan-peninggalan budaya, diantaranya yang terkenal adalah naskah-naskah kuno yang disebut lontar. Lotar-lontar yang jumlahnya ribuan perlu diselamatkan karena merupakan sumber yang sangat penting dalam usaha mempelajari kebudayaan Indonesia kuno, khususnya kebudayaan Bali.Sejarah Bali kuno mencakup kurun waktu dari abad ke-8 masehi sampai abad ke-14 masehi dengan pusat kerajaan disekitar pejeng dan Bedahulu, kabupaten Gianyar. Berdasarkan Kurun waktu tersebut diusahakan memilah lontar yang jumlahnya ribuan. Lontar-lontar yang ada dapat dikelompokkan kedalam jaman Bali Kuno dan yang termasuk Bali Pertengahan (Bali-Majapahit). Penemuan lontar yang demikian banyaknya TErsimpan diberbagai perpustakaan seperti Gedong Kirtya, Fakultas Sastra, Museum Bali, Koleksi Perseorangan di Geria dan puri di Bali. Berdasarkan telaah bahasa, hurufnya, bentuk gubahannya, maka pada tulisan ini akan dikemukakan beberapa buah lontar di Bali yang diduga tergolong tua. Lontar-lontar itu sebagai berikut :1. Bhuwana Koca.2. Sang Hyang Kamahayanika.3. Sang Hyang Tatwajnana.4. Kusuma Dewa.5. Tantu Panggelaran.6. Brahmanda Purana.7. Dewa Tatwa.

Sesajen Bali
Para penghuni Bali yang tidak tampak – dewa, roh para leluhur, dan roh-roh jahat – diperlakukan oleh penduduk Bali sebagai tamu kehormatan dengan persembahan sesajen (banten) dalam berbagai bentuk, warna dan isi. Pemberian ini adalah pemberian terbaik – sebagai pernyataan terima kasih kepada para dewa, dan membujuk roh-roh jahat agar tidak mengganggu keharmonisan kehidupan.Sesajen sederhana dipersembahkan setiap hari, sedangkan sesajen istimewa dipersiapkan untuk acara-acara keagamaaan tertentu. Sebagai contoh, setelah makanan harian dipersiapkan, sedikit bagian dari makanan tersebut disisihkan untuk para dewa penghuni rumah sebelum keluarga mengkonsumsi makanan tersebut. Selain itu, para dewa juga disajikan canang kecil – tray daun kelapa yang diisi berbagai jenis bunga dan sirih sebagai simbol keramah-tamahan.Sebagai persembahan yang diberikan untuk roh yang lebih tinggi, banten ini harus diatur sedemikian rupa agar menarik, dan tentunya hal ini membutuhkan pengorbanan waktu dan tenaga yang cukup besar. Daun-daun dipotong dan dirangkai sedemikian rupa menjadi bentuk-bentuk yang menarik (jejaitan). Berbagai jajan dibentuk menjadi lempengan tipis dan bahkan menjadi bahan dominan banten yang memiliki arti simbolis yang kuat selain fungsi dekoratifnya. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa persiapan banten merupakan bagian dari bentuk seni tradisi yang penting yang masih berlaku di Bali.

Bahan-bahan dan persiapan
Meskipun hanya sedikit materi tahan lama yang dipergunakan, seperti uang logam, kain dan masker kayu tertentu, banten biasanya dibuat dari bahan-bahan yang mudah rusah, materi organic. Bukan hanya bahannya, tetapi fungsi dari objek-objek ini bersifat sementara. Setelah dipersembahkan kepada dewa, sebuah banten tidak dapat digunakan lagi dan banten yang serupa harus dipersiapkan setiap hari. Persiapan banten merupakan salah satu tugas yang dilakukan oleh kaum wanita Bali. Dalam rumah tanggan, kaum wanita dari beberapa generasi bekerja bersama, dan dengan cara ini, ketrampilan mereka diwariskan turun temurun ke generasi muda. Dalam hal-hal tertentu, kaum pria juga memberikan konntribusi, karena penyembelihan hewan dan persiapan sebagian besar banten dengan daging binatang merupakan tugas kaum pria. Bahkan banyak wanita Bali yang hidup dengan penghasilan yang diperoleh sebagai tukang banten. Tugas utama mereka adalah mengarahkan masyarakat dalam jumlah besar yang secara bersama-sama mempersiapkan banten untuk acara-acara besar di rumah atau di pura. Mereka mampu mengkoordinasi pekerjaan ini karena mereka tahu jenis dan bahan-bahan yang diperlukan untuk sesajen untuk acara yang berbeda-beda.Dengan semakin banyaknya kaum wanita Bali yang bekerja diluar rumah, di kantor-kantor atau hotel, waktu merekapun semakin berkurang untuk persiapan sesajian mereka sendiri. Kondisi inilah yang memacu tingginya permintaan sesajen yang siap dipersembahkan yang dihasilkan oleh tukang-tukang banten dirumah mereka dengan bantuan wanita-wanita lain yang mereka pekerjakan. Meskipun terdapat unsur komersil dalam persiapan banten, hal ini tidak mengurangi arti dan fungsi upacara bantenan di Bali.

Sesajen Upacara
Untuk setiap upacara yang dilakukan, diperlukan sesajen yang beraneka ragam dan dalam jumlah besar. Terdapat ratusan jenis sesajen – nama, bentuk, ukuran dan bahan yang digunakan begitu beraneka ragam. Selain itu, terdapat juga perbedaan antara sesajen yang dipersembahkan oleh satu daerah dan daerah lain, dan bahkan dari satu desa ke desa lain. Tetapi bentuk dasar dari sesajen itu sendiri tidak jauh berbeda. Nasi, buah-buahan, kue, daging dan sayuran ditata sedemikian rupa dalam wadah yang dialas dengan daun kelapa dan dihiasi dengan dekorasi dari daun kelapa, yang disebut sampian, yang juga berfungsi sebagai wadah tempat sirih dan kembang.Bantenan tertentu digunakan pada banyak upacara umum, sementara bantenan khusus digunakan untuk upacara-upacara khusus. Tatanan sesajen dasar membentuk kelompok-kelompok (soroh) mengelilingi bantenan inti, dan karena upacara dapat dilakukan dengan tingkat elaborasi yang berbeda-beda, tergantung tujuan upacara tersebut, arti dan status sosial dari para pesertanya, maka ukuran dan isi dari kelompok-kelompok sesajen ini juga berbeda berdasarkan elaborasi dari upacara tersebut. Ukuran sesajen dapat diperbesar atau diperkecil agar sesuai dengan situasi upacara. Misalnya, bantenan pula gembal biasa berisi, antara lain, berlusin-lusin adonan beras yang disajikan dalam wadah daun kelapa. Pada upacara yang lebih tinggi, sesajen ini dibuat menjadi tatanan menara kue berwarna-warni dalam bentuk yang spektakuler, yang tingginya dapat mencapai beberapa meter. Selain sesajen masal yang dikaitkan dengan upacara tertentu, setiap keluarga membawa sesajen mereka sendiri dalam ukuran besar dan berwarna-warni pada festival pura. Barisan dan kelompok wanita yang beramai-ramai membawa sesajen mereka menuju pura menghasilkan satu pemandangan yang spektakuler.Di Pura, sesajen ini diletakkan ditempat yang sesuai dengan tujuan dan fungsinya. Sesajen untuk para dewa dan roh para leluhur diletakkan di altar yang tinggi, sedangkan sesajen untuk roh-roh jahat diletakkan dibagian dasar. Perbedaan yang penting disini adalah sesajen yang diberikan untuk para roh jahat dapat berisi daging mentah, sementara sesajen untuk para dewa dan roh para leluhur bisa tidak berisi daging mentah. Sesajen khusus yang menjadi persyaratan suatu upacara diletakkan pada sebuah pavilion atau podium temporer.Pada saat upacara dilakukan, seorang pendeta akan menyucikan sesajen yang ada dengan memercikkan air suci dan membacakan doa atau mantra.
Asap dupa mengantar inti persembahan tersebut ke tujuannya masing-masing. Persembahan sesajen harian dirumah juga dilakukan dengan cara yang sama, yaitu dengan menggunakan air suci dan api. Setelah upacara selesai, dan “inti” dari sesajen ini telah terbakar, sesajen ini dapat dibawa pulang kerumah dan dikonsumsi oleh mereka yang melakukan penyembahan.

Simbolisme
Elemen-elemen yang memungkinkan terjadinya kehidupan didunia ditransformasikan dalam bentuk bantenan dimana dengan demikian elemen-elemen tersebut dikembalikan sebagai persembahan kepada Pencipta asalnya. Tetapi sebuah bantenan tidak hanya terdiri dari berbagai jenis buah di bumi, tetapi juga refleksi dari struktur intinya – motif-motif yang dekoratif seringkali merupakan symbol dari berbagai unsur dan elemen alam Bali. Warna dan jumlah bunga dan bahan-bahan lain, misalnya, mengacu pada para dewa yang menjaga arah mata angin. Sirih yang diletakkan diatas setiap sesajen merupakan symbol Trinitas Hindu, begitu juga tiga warna dasar yang digunakan – warna merah merupakan symbol Brahma, hitam untuk Wisnu, dan warna putih untuk Siwa.Bentuk kerucut, baik dari sesajen itu secara keseluruhan atau bentuk nasi yang dimasukkan dalam sesajen tersebut, merupakan model dari gunung yang garis dasarnya terhubung dengan alam dunia bawah tanah, dunia bagian tengah dan dunia bagian atas – simbol dari keseluruhan ruang dan sumber kehidupan di bumi. Kue-kue yang terbuat dari adonan beras merupakan simbol dari isi bumi; tumbuhan, hewan, manusia, bangunan atau bahkan pemandangan dari sebuah pasar atau kebun kecil. Pasangan dari kue-kue tersebut, seperti misalnya matahari dan bulan, gunung dan lautan, bumi dan langit, merupakan simbol tatanan ganda universal dimana elemen-elemen yang saling mengisi tidak dapat berdiri sendiri. Penyatuan pria dan wanita, yang dibutuhkan untuk kelanjutan kehidupan, dalam banyak cara, dinyatakan dalam komposisi isi sesajenan. Penciptakan kembali jagat raya melalui seni dan media sesajenan, diharapkan menjadi jaminan kelanjutan kehidupan di bumi.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home