Saturday, November 19, 2005

Bali - Seni & Budaya

KESENIAN BALI


Tari Topeng
Tarian topeng adalah pertunjukan topeng sakral yang didasarkan pada legenda-legenda silsilah kehidupan; dengan wayang kulit, salah satu media tradisional kebudayaan. Serangkaian toping model yang merupakan simbol figur-figur keluarga kerajaan diatur apik dalam rangkaian tari-tarian dan diiringi oleh orkes gamelan.

Tarian Sakral
Tarian sakral ini berhubungan langsung dengan upacara keagamaan dimana aktivitas ini berfungsi sebagai persembahan, doa, atau upacara mengusir roh jahat. Dengan keterlibatan pemangku (pendeta dan penjaga pura desa), upacara ini merupakan sebuah bentuk hubungan dramatis dengan dunia spiritual serta melakukan komunikasi dengan tujuan untuk mensukseskan kegiatan upacara tersebut.

Legong Keraton
Dalam legenda, Legong adalah tarian ilahi dari para dewa-dewa suci. Dari semua tarian klasik Bali, Legong tetap merupakan inti dari keindahan dan keanggunan. Gadis-gadis tertentu dipilih untuk mewakili masyarakat sebagai penari Legong. Penari-penari pakar melakukan tarian ini dengan rasa bangga dan mereka meluangkan waktu berjam-jam membahas tema dari berbagai kelompok Legong. Legong yang paling terkenal adalah Legong Keraton, Legong dari keluarga kerajaan.

Calonarang
Saat yang menyeramkan pada malam pertama bulan purnama pada waktu bayangan gelap terlihat seperti hantu diatas tanah, pada saat penghuni desa berkumpul Pura Dalem untuk menonton drama Calon Arang, kisah seorang janda jahat yang bernama Dirah. Setiap orang Bali mengenal cerita legenda Calonarang.

Barong dan Rangda
Barong adalah pelindung gaib dari desa-desa Bali. Sebagai “penguasa hutan” dengan topeng bergigi runcing dan rambut panjang, Barong adalah lawan dari Rangda sang penyihir, penguasa roh kegelapan, dalam pertarungan yang tidak pernah berakhir antara baik dan jahat. Dalam festival-festival Galungan Kuningan, Barong (terdapat banyak jenis barong, termasuk barongket, barong macan, dan barong bangkal) mengembara dari pintu ke pintu (nglawang) membersihkan daerah dari pengaruh jahat.

Janger
Suling dimainkan dengan nada yang memilukan, kemudian ada suara yang mengalunkan lagu aneh dengan nada tinggi ke intonasi nada yang tertinggi yang hampir tidak kedengaran. Dua gadis kemudian tampil dengan mengenakan mahkota yang sangat indah dengan tanduk yang berwarna-warni. Mereka berjalan kedepan, agar pasangan berikutnya maju, sampai akhirnya dua belas gadis berada diatas panggung. Secara perlahan-lahan, mereka berlutut pada posisi tubuh saling berhadapan, memiringkan kepalanya dengan gerakkan bola mata mengikuti irama musik.

Wayang Kulit
Wayang Kulit adalah pertunjukkan wayang yang biasanya dilakukan pada upacara-upacara keagamaan. Wayang ini terbuat dari kulit sapi yang telah dikeringkan dibentuk sedemikian rupa dan diwarnai. Bentuk wayang ini sesuai dengan karakter yang dimainkan. Terdapat wayang monster yang menggambarkan orang jahat dan orang baik dinyatakan dengan wayang dengan bentuk yang indah. Setiap cerita “Wayang Kulit” menceritakan bahwa orang baik selalu menang dan orang yang jahat mengalami kekalahan. Pertunjukkan wayang tradisional biasanya didasarkan pada legenda Mahabharata dan Ramayana; dimana pertunjukkan ini dilakukan pada malam hari dalam situasi upacara yang dipersembahkan untuk para dewa dan sebagai wadah pembimbingan moral dan spiritual masyarakat.

Sang Hyang Bidadari
Di Pura, dua gadis berlutut didepan anglo dengan dupa berasap. Sang pemangku memberikan persembahan kepada dewa pura, meminta perlindungan untuk seluruh desa selama jam upacara. Dibelakang dua gadis ini terdapat sekelompok wanita yang duduk sambil menyanyikan lagu Sanghyang, yang meminta dewa angkasa untuk turun dari surga dan menari dihadapan masyarakat melalui tubuh para gadis tersebut.

Arja
Arja merupakan bentuk tarian gabungan Bali (yang dikenal dengan nama OPERA oleh komunitas internasional) dengan cerita-cerita, lagu dan komedi aslinya. Karakter ini berkomunikasi dengan golongan kasta tertinggi Bali melalui dialog dan puisi. Apa yang mereka ucapkan kemudian diterjemahkan menjadi bahasa harian masyarakat Bali oleh para pemain

Tari Baris
Seperti halnya Legong dengan keindahan feminimnya, Baris, sebuah tarian perang tradisional, adalah tarian yang memuja keperkasaan kesatria Bali yang menang perang, para penarinya mengenakan topeng-topeng raksasa atau topeng setan yang menyeramkan, dan ceritanya diambil dari episode-episode versi Kawi dari legenda Ramayana dan Mahabharata. Ada beberapa jenis tarian Baris yang dibedakan berdasarkan senjata yang dibawa. Yang bersifat ritual adalah Baris Gede dimana tarian menceritakan dimana para prajurit kerajaan sedang melakukan defile di kerajaan.

Oleg Tamulilingan
Tarian ini adalah tarian modern yang dikembangkan oleh almarhum Mario ditahun 1952, Oleg Tambulilingan telah menjadi tambahan populer pada deretan tarian yang disertakan pada pertunjukkan Legong. Awalnya tarian ini dimainkan hanya oleh satu gadis yang disebut Oleg, istilah umum yang berarti goyangan sang penari. Akhirnya, pria pun disertakan untuk membuat duet, dan tarian ini kemudian mendapat tema baru yang mengilustrasikan dua tambulilingan (lebah) yang bermain-main ditaman.

Tarian Kecak
Berlawanan dengan kepercayaan, tarian Kecak itu sendiri tidak begitu tua. Tarian ini mungkin pertama kali dilakukan ditahun 1930. Lagunya diambil dari ritual tarian Sanghyang kuno, yang sampai hari ini masih dilakukan beberapa desa. Selama tarian Sanghyang, seseorang akan berada pada kondisi tidak sadar, melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat.

Barong Landung
Di pulau Nusa Penida hiduplah roh jahat, Jero Gede Mecaling, sang raksasa bertaring. Raksasa ini pernah berkunjung ke Bali bersama rombongan setannya. Dia turun di Bali bagian selatan dalam wujud Barong dan menunggu disana sementara kaki tangannya berpencar untuk menghancurkan kehidupan. Masyarakat kemudian mengetahui keberadaan raksasa ini dan meminta nasihat kepada pendeta yang mengatakan bahwa mereka harus menciptakan Barong lain yang bentuknya seperti Jero Gede Mecaling; ini saja cukup kuat untuk mengusir setan. Mereka kemudian membuat sebuah Barong yang besar dan berhasil mengusir sang raksasa itu kembali ke Nusa. Sejak saat itu, Barong ini digunakan untuk menyembuhkan penyakit dan mengusir roh setan.

Tari Kebyar Duduk
Seperti halnya Baris, Kebyar adalah tarian tunggal, tetapi tarian ini bersifat lebih individualistik. Tarian Baris mengilustrasikan gerakkan-gerakkan kesatria Bali secara umum. Dalam tarian Kebyar, penekanannya adalah pada penari itu sendiri yang menginterpretasikan nuansa musik dengan ekspresi wajah dan gerakkan.

Drama Cupak
Seorang pria riang dengan perut yang besar, terkenal sebagai orang rakus Bali. Cerita Cupak, yang dimainkan sebagai tarian komik, lebih bersifat seperti drama legenda: sebuah kerajaan, hutan yang misterius dan lautan yang dalam; seorang penjahat, permaisuri, tukang sihir dan pahlawan, bencana, solusi masalah, dan kegembiraan.

Tari Pendet
Pendet merupakan pernyataan dari sebuah persembahan dalam bentuk tarian upacara. Tidak seperti halnya tarian-tarian pertunjukkan yang memerlukan pelatihan intensif, Pendet dapat ditarikan oleh semua orang; pemangkus pria dan wanita, kaum wanita dan gadis desa. Tarian ini diajarkan sekedar dengan mengikuti gerakkan dan jarang dilakukan di banjar-banjar. Para gadis muda mengikuti gerakkan dari para wanita yang lebih senior yang mengerti tanggung jawab mereka dalam memberikan contoh yang baik.

Drama Gong
Pada drama ini, penekanannya lebih besar pada penyelesaian sebuah cerita dibandingkan padanan antara musik dan tarian. Musik gamelan selalu merupakan elemen penting, tetapi tidak semutlak pengembangan warna kepribadian dari para pesertanya. Cerita cinta, kisah romantika jaman dahulu kala, petualangan cinta, dan keperkasaan kesatria adalah tema-tema yang populer dari drama-drama ini.

Gambuh
Berkembangkan diantara orang-orang Bali tarian dari generasi ke generasi; semua bentuk tarian, yang sering didengarkan oleh setiap orang, adalah tarian yang dikembangkan dari Gamboeh; semua teknik tarian berasal dari gerakkan-gerakkan Gamboeh, semua instrumen dan nada berasal dari gamelannya yang khas.
Topeng Pajegan
Tarian ini merupakan tarian kuno Topeng, dimana sejarah leluhur, agama Hindu Bali, dan kritikan terhadap situasi regional dirangkai bersama dalam musik, tarian, lagu dan lawakan untuk memperingati para pahlawan dan keterkaitannya dengan situasi kontemporer sehari-hari.
HARI BESAR

Galungan dan Kuningan
Hari raya Galungan dan Kuningan jatuh setiap enam bulan sekali, merupakan hari untuk merayakan Kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (kejahatan), dan juga hari untuk mengucapkan puji syukur atas segala karunia-Nya. Hari raya ini jatuh pada hari Rabu Kliwon Dunggulan dan Sabtu Umanis Kuningan. Umat Hindu di Bali biasanya memasang penjor di sepanjang jalan yang melambangkan gunung atau naga.

Hari Raya Nyepi
Nyepi Merupakan tahun baru Icaka, yang biasanya jatuh pada bulan Maret setiap tahunnya. Pada hari raya ini umat tidak melakukan aktivitas apa-apa, tidak menyalakan api, tidak bekerja, tidak bepergian, khusus melakukan renungan suci dan evaluasi terhadap apa yang telah kita lakukan, dan membenahi diri agar menjadi lebih baik lagi di masa depan. Pada hari itu Bali nampak bagaikan pulau mati tanpa polusi total selama 24 jam.

Hari Raya Saraswati
Merupakan hari suci untuk merayakan turunnya ilmu pengetahuan sebagai sinar suci yang memberikan penerangan kebijaksanaan hidup. Jatuh pada hari Sabtu Umanis Watugunung. Banyak dirayakan di sekolah-sekolah, dan pusat-pusat pendidikan, tentu saja di tempat para pinandita.

Ngaben
Merupakan upacara penghormatan anggota keluarga kepada leluhur, sebagai simbol peleburan lima unsur badan melalui pembakaran mayat dan penyatuan roh yang diantarkan oleh lembu dan mantra ke penciptanya. Ngaben bisa bersifat bersifat individu maupun kelompok, yang bisa anda saksikan di desa tertentu atau beberapa desa, dan yang paling besar bila dilakukan di kalangan keluarga kerajaan (puri).

Potong Gigi
Potong Gigi merupaan upacara Manusa Yadnya sebagai simbol penyucian dari segala mala atau kotoran, yang disimbolkan dengan pemotongan 6 gigi bagian atas sebagai makna mengendalikan enam musuh di dalam diri kita, sehingga bisa menjalani hidup yang lebih suci dan bersih. Dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya. Umumnya dilakukan ketika sang anak menanjak dewasa, tidak jarang pula dilakukan setelah punya anak.

Odalan
Odalan merupakan upacara yang diselenggarakan di pura sebagai ulang tahun berdirinya pura tersebut untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan masyarakat semua dan alam semesta beserta isinya. Baik di tingkat keluarga, desa, maupun yang lebih luas.

Sektor Pariwisata

Bali dan pariwisata tidak bisa dipisahkan. Bukan hanya Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali yang banyak berharap dari sektor jasa ini untuk menggerakkan roda pembangunan, tetapi besar masyarakatnya juga bertumpu di sektor tersebut. Apa yang dilakukan Pemprov Bali maupun masyarakat untuk membangun pariwisata sebenarnya merupakan langkah tepat. Mengingat potensi Bali bukan di pertambangan atau energi, melainkan di pariwisata melalui budaya, seni, adat-istiadat dan keindahan alamnya. Namun, sektor pariwisata juga merupakan bisnis jasa yang paling rentan terhadap perubahan kondisi sosial, ekonomi, politik dan keamanan, yang sifatnya tidak lagi lokal atau regional, tetapi sudah mengglobal. Karena itu, ketika sektor andalan ini mengalami stagnasi, maka sektor-sektor lain yang terkait juga mengalami kelesuan. Hal yang menarik, dalam dua tahun terakhir secara bertubi-tubi terjadi peristiwa-peristiwa yang membuat pariwisata Bali mengalami tantangan yang cukup berat. Belum sembuh betul dari terpaan krisis ekonomi secara nasional, pariwisata Bali seakan mengalami masa paceklik setelah diguncang tragedi WTC. Lalu, di bulan Oktober 2002, pariwisata Bali kembali mendapat cobaan berupa tragedi bom Kuta. Tidak cukup sampai di situ, kelabu pariwisata Bali masih menghinggapi di tahun 2003. Berbagai peristiwa yang terjadi dalam skala nasional maupun global, seperti konflik perang AS-Irak, mewabahnya virus SARS dan tragedi bom JW Marriott secara tidak langsung mewarnai kinerja kepariwisataan Bali.

Kunjungan Wisman
Adanya berbagai peristiwa dan konflik yang terjadi tiga tahun terakhir ini menjadi babak paling kelam dalam sejarah kepariwisataan Bali. Dalam waktu singkat indikator kepariwisataan terkoreksi secara tajam. Kunjungan wisatawan anjlok disusul rentetan akibatnya yang tak kalah getirnya menimpa hotel, restoran, art shop, bar, kafe atau seluruh konstelasi kepariwisataan Bali. Dari banyak indikator statistik tentang kepariwisataan yang ada, indikator yang paling mudah dilihat adalah jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) yang datang langsung ke Bali (visitors direct arrival to Bali). Kunjungan wisman ke Bali selama tahun 2003 kurang dari satu juta orang (993.029 orang). Jumlah ini turun sangat tajam (22,77 persen) dari tahun sebelumnya yang mencapai 1.285.844 orang. Selama tahun 2003, kunjungan wisman tertinggi (high season) terjadi di bulan Agustus yang mencapai 115.546 orang, namun masih di bawah tahun 2002 (160.420 orang). Sebaliknya, kunjungan wisman terendah terjadi di bulan Mei sebanyak 47.858 orang atau turun 59,88 persen pada bulan yang sama tahun 2002. Apabila diperhatikan dari lima negara teratas maka pasar wisman asal Jepang masih mendominasi segmen kepariwisataan Bali selama periode 1999-2003. Di tengah lesunya kunjungan wisman asal negara dari kawasan Eropa dan Australia akibat rentetan peristiwa dalam negeri maupun global, ternyata pasar wisman asal Asia seperti Jepang dan Taiwan menunjukkan grafik peningkatan setahun terakhir ini. Dari sebanyak 993.029 orang wisman yang berkunjung ke Bali selama tahun 2003 itu, pasar wisman asal Jepang masih lebih dominan. Selama tahun 2003, wisman asal Jepang mencapai 185.751 orang atau memberi share 18,71 persen. Jumlah wisman Jepang ini turun 38,37 persen atau 301.380 orang dibandingkan tahun 2002. Selain Jepang, wisman asal Taiwan menempati posisi kedua dengan pencapaian sebanyak 170.533 orang (17,17 persen). Padahal pada tahun 2002, wisman asal Taiwan ini menempati posisi ketiga di bawah Australia. Bahkan wisman asal Taiwan ini naik 1,05 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai 168.756 orang.Sementara itu, bila disimak arus kunjungan wisatawan pada hotel berbintang di Bali maka kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) selalu lebih dominan dibandingkan dengan kunjungan wisatawan nusantara (wisnus). Kunjungan wisman pada hotel berbintang turun 26,54 persen, dari 1.217.344 orang (77,49%) di tahun 2002 menjadi 894.208 orang (70,16%) di tahun 2003. Sementara itu, wisnus yang menginap di hotel berbintang justru naik 7,56 persen, dari 353.515 orang (22,51%) di tahun 2002 menjadi 380.233 orang (29,84%) di tahun 2003. Ini berarti, meskipun kunjungan wisman turun, namun mampu ditopang oleh kunjungan wisnus yang meningkat cukup lumayan. Sebagian besar wisatawan (wisnus dan wisman) (56,05%) memilih hotel bintang lima sebagai tempat menginap, yaitu 527.445 wisatawan asing dan 186.871 wisatawan domestik.

Akomodasi Hotel
Perkembangan industri pariwisata di Bali tidak terlepas dari usaha akomodasi hotel, baik berbintang maupun non bintang. Indikator yang dapat digunakan antara lain tingkat penghunian kamar (TPK). Dalam konteks ini akan dikaji TPK hotel berbintang, sesuai dengan ketersediaan data yang ada. Seperti telah diketahui, bahwa serangkaian tragedi yang terjadi tiga tahun terakhir ini telah membuat efek domino yang begitu besar terhadap kepariwisataan Bali, sehingga menyebabkan TPK hotel di Bali menurun. Sebelum tragedi bom Kuta terjadi, TPK seluruh hotel di Bali masih berkisar antara 39 - 40 persen, bahkan TPK hotel berbintang di atas 50 persen, namun ketika tragedi itu terjadi TPK seluruh hotel mengalami penurunan.Secara kumulatif, rata-rata TPK hotel berbintang di Bali sepanjang tahun 2003 sebesar 37,40 persen Jelas angka ini berada di bawah tahun 2002 yang sebesar 50,60 persen. Selama tahun 2003, rata-rata TPK tertinggi adalah TPK hotel bintang lima, yakni 41,33 persen. Sedangkan secara bulanan, rata-rata TPK di bulan September adalah yang tertinggi (44,37 persen). Sebaliknya, rata-rata TPK terendah terjadi di bulan Mei, yakni 28,99 persen. Namun demikian, penurunan TPK juga dapat disebabkan oleh bertambahnya jumlah kamar yang tersedia. Jumlah akomodasi kamar dan tempat tidur di Bali cenderung meningkat sampai tahun 2003.

Taman Budaya Bali (Werdhi Budaya)
Idaman seniman-seniman Bali untuk memiliki suatu kawasan pusat kegiatan seni budaya Bali, pada akhirnya terwujud, menjadi nyata ketika sebuah gedung berdiri menjulang megah ke udara dengan arsitektur khas penuh ukiran Bali, dan dilatari konsep filsafat yang tinggi. Gedung itu berdiri dengan nama MAHUDARA MANDHARA GIRI BHUWANA, diresmikan tanggal 14 Peburari 1973. Dan gedung itu pulalah menjadi cikal bakal kawasan sekitar 5 hektar sebagai suatu "taman" tempat tumbuh subur dan berseminya "bunga-bunga" kesenian Bali. Kawasan Taman Budaya itu terletak di sebelah barat Jalan Nusa Indah dinamai Werdhi Budaya sesuai harapan lestari atau werdhi-nya kebudayaan Bali - sebagai bagian bunga rampainya Kebudayaan Nasional Indonesia.Pada pokoknya kawasan Taman Budaya yang dibelah sebuah sungai dari timur ke barat ini dibagi dalam 4 komplek :1. Komplek Suci meliputi Pura Taman Beji, Bale Selonding, Bale Pepaosan, dll.2. Komplek tenang meliputi Perpustakaan Widya Kusuma3. Komplek setengah ramai meliputi Gedung Pameran Mahudara, Gedung Kriya, Studio Patung, Wisma Seni dan Wantilan4. Komplek ramai meliputi Panggung Terbuka Ardha Candra dan Panggung tertutup Ksirarnawa (keduanya berada di Selatan Sungai)Kilas cerita dalam Adi Parwa terpateri menjadi nama-nama bangunan serta pahatan dengan indah pada panil-panil batu padas di gedung-gedung itu. Di puncak gedung menjulang Mahudara dengan pameran permanen didalamnya, ada sebuah murdha berukir berbentuk bajra atau genta - simbul Dewa Indra, sementara di sebelah Timur gedung utama ini terdapat sebuah balai terapung: Bale Kembang, simbul kepala raja penyu Akupa dengan telaga kecil mengelilingi lautan susu Ksirarnawa. Naga Basuki dilambangkan dengan 2 ekor naga besar yang berada di kiri kanan jalan masuk ke lantai dua gedung utama.
Sebuah pura Taman Beji melengkapi komplek ini di bagian Timur, dengan sebuah Bale Selonding di depannya, juga sebuah perpustakaan Widya Kusuma - berlantai dua tempat mencari acuan tentang Taman Budaya dan hasil seni yang ada. Kebiasaan berdiskusi dalam bentuk pepaosan diwadahi dengan sebuah balai dinamai Amertha Saraswati - tempat membaca lontar dan menterjemahkannya.Masih di bagian Utara Sungai terdapat Gedung Kriya Ucaaihsrawa, tempat pameran lukisan atau seni rupa lainnya secara tidak tetap. Para seniman Bali secara bergilir mendapatkan kesempatan berpameran di tempat ini, kadang-kadang diselingi pameran dari seniman negeri lain sebagai perbandingan. Sebuah Studio Patung diberi nama Dewi Ratih berada di barat gedung Kriya dengan 2 lantai. Pada saat pameran Pesta Kesenian Bali, gedung ini digunakan sebagai ajang pameran foto di lantai 2 dan arsitektur Bali di lantai 1.Bangunan yang paling besar seluas 7200 meter persegi adalah sebuah panggung amphi theatre berbentuk bulan sabit, karena itu dinamai Ardha Chandra. Candi kurung yang ada di sebelah Timur - sekaligus tempat keluarnya para penari saat pertunjukkan - dibuat demikian megah, dan anggun menjadi latar belakang pertunjukkan yang indah. Apalagi pada malam hari saat bulan purnama atau ketika sorot lampu menerpa bangunan ini. Panggung itu bisa menampung lebih dari 6000 penonton. Bangunan yang selesai tahun 1977 ini memiliki lantai bawah di bagian pinggir Utara, Barat dan Selatan. Tempat ini dipakai markas organisasi kesenian yang ada; tempat penjualan karcis dan pameran industri kerajinan dari berbagai kebupaten setiap Pesta Kesenian Bali berlangsung.
Sekarang, banyak juga seniman dan pengrajin yang antre mendapatkan giliran pameran di sana.Gedung panggung tertutup di sebelah Barat Ardha Chandra adalah bangunan Ksirarnawa di atas tanah 5.850 meter persegi dengan 2 lantai. Lantai ataslah merupakan panggung tertutup yang ditata indah untuk 800 penonton. Lantai bawah dipakai perkantoran Taman Budaya, ruang informasi, cafetaria dan ruang sanggar-sanggar. Selama Pesta Kesenia Bali berlangsung, lantai satu ini dipakai untuk tempat pameran hasil kerajinan rumah tangga dan barang seni yang terus digenjot dari tahun ke tahun dan terbukti menjadi andalan ekspor nonmigas Bali selama ini.Selain bangunan tadi yang semua permanen ada sejumlah panggung tak permanen; Panggung Terbuka Cak Mandala, Kidul Mandala, Uttar Mandala, Madya Mandala, dan Wantilan Mandala berfungsi untuk pagelaran, tempat berdiskusi atau latihan menari. Sarasehan budaya setiap Pesta Kesenian Bali biasanya diadakan di wantilan - sebuah gedung tertutup memuat sekitar 500 orang - dekat gedung Studio Patung, sedangkan di panggung Cak Mandala sering digelar tarian Cak bagi wisatawan yang mengujungi Taman Budaya pada malam hari.Masih banyak yang mesti dikerjakan untuk sempurnanya Taman Budaya, sesuai dengan maket yang pernah ada. Bertahap namun pasti taman ini terus dilengkapi baik dengan bangunan-bangunan fisik maupun kiat berkesenian untuk mereguk air kehidupan melalui seni.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home