Saturday, November 19, 2005

BALI

BALI


Penduduk
Orang Bali di samping berdomisili di Propinsi Bali, juga tersebar di berbagai propinsi lain di Indonesia sebagai transmigran. Penduduk Bali merupakan unsur orang Bali yang menjadi salah satu suku bangsa yang berdomisili di Kepulauan Indonesia. Suku bangsa Bali merupakan satu kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran atau kesatuan kebudayaan, baik kebudayaan daerah Bali maupun kebudayaan nasional Indonesia. Rasa kesadaran akan kesatuan kebudayaan Bali diperkuat oleh adanya kesatuan bangsa dan kesatuan agama Hindu. Bahasa Bali memiliki tradisi sastra, baik tulisan maupun lisan serta didukung oleh sistem aksara tersendiri. Orang-orang Bali yang tradisional sangat terikat pada segi-segi kehidupan sosial, yaitu
(1) pada kewajiban melakukan pemujaan terhadap pura tertentu
(2) pada satu tempat tinggal bersama atau komunitas
(3) pada pemilikan tanah pertanian dalam subak tertentu
(4) pada satu status sosial atas dasar warna
(5) pada ikatan kekerabatan menurut prinsip patrilineal
(6) pada keanggotaan terhadap sekehe tertentu
(7) pada satu kesatuan administrasi desa dinas tertentu
Penduduk merupakan aset pembangunan bila mereka dapat diberdayakan secara optimal. Kendati begitu, mereka juga bisa menjadi “beban” pembangunan jika pemberdayaannya tidak dibarengi dengan sumber daya manusia (SDM) yang memadai pada wilayah/daerah bersangkutan, demikian pula bagi Provinsi Bali.Berdasarkan data statistik tahun 2002 tercatat jumlah penduduk di Bali sebanyak 3 216 881 jiwa yang terdiri dari 1 632 995 jiwa (50,76%) penduduk laki-laki dan 1 583 886 jiwa (49,24%) penduduk perempuan. Jumlah penduduk tahun 2002 ini naik 1,92 persen dari tahun sebelumnya sebanyak 3 156 392 jiwa. Dengan luas wilayah 5 632,86 km2, maka kepadatan penduduk di Bali telah mencapai 571 jiwa/km2.Sementara itu, jumlah penduduk usia 0-14 tahun mencapai 830 267 orang di tahun 2002 atau turun sebesar 0,91 persen dibandingkan penduduk usia yang sama di tahun 2001. Penduduk usia 15-64 tahun mencapai 2 192 228 orang atau naik sebesar 3,40 persen di banding tahun 2001 dan penduduk di atas 65 tahun sebesar 194 386 orang atau turun sebesar 1,96 persen dibanding tahun 2001. Dengan meningkatnya penduduk usia kerja maka secara langsung akan mempengaruhi angka ketergantungan. Tahun 2001 angka ketergantungan mencapai 49 orang per 100 orang usia kerja sedangkan tahun 2002 mencapai 47 orang per 100 usia kerja atau turun sebesar 4,36 persen.

Angkatan Kerja
Dalam teori ekonomi makro, variabel tenaga kerja merupakan variabel terpenting dalam mengukur tingkat output suatu perekonomian. Modelmodel ekonomi juga selalu akan membedakan perekonomian yang full employment dengan perekonomian yang berada di bawah tingkat full employment. Kedua model ini tentu juga harus dibahas dalam pendekatan yang berbeda. Karena itu, dalam pembuatan kebijakan ekonomi, variabel tenaga kerja harus diperhitungkan, agar kebijakan ekonomi yang terbentuk dapat secara komprehensif memecahkan berbagai persoalan ekonomi, yang kerapkali berkaitan dengan masalah ketenagakerjaan. Bagi Pemerintah Provinsi Bali, masalah ketenagakerjaan masih merupakan fenomena pelik. Apalagi pasar tenaga kerja di Bali diperkirakan akan semakin terintegrasi di masa mendatang. Bali merupakan wilayah yang mudah dijangkau dari mana pun juga. Akibatnya jelas, arus migrasi maupun urbanisasi menjadi tak terhindarkan. Dengan situasi sedemikian ini, bagaimanapun akan memberikan pengaruh pada struktur ketenagakerjaan, yakni kemungkinan menggelembungnya penduduk usia produktif (usia kerja). Untuk itu, perluasan kesempatan kerja perlu dioptimalkan secara produktif (productive employment).Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Tahun 2002 mencatat jumlah penduduk usia kerja di Bali sebanyak 2 654 395 orang, terdiri dari 1 332 500 laki-laki dan 1 321 895 perempuan. Dari jumlah ini, sebanyak 1 777 909 orang diantaranya merupakan angkatan kerja yang terdiri dari penduduk yang sudah bekerja 1 715 452 orang (96,49%) dan yang mencari pekerjaan 61 032 orang (3,51%). Khusus untuk penduduk yang mencari pekerjaan, angkanya naik 35,78 persen dari tahun sebelumnya sebesar 46 000 orang.Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang dikirim ke luar negeri tahun 2002 mencapai 300 orang, angka ini menurun dibandingkan TKI yang dikirm pada tahun 2001 sebanyak 1000 orang.
Sementara itu, kasus Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang terjadi sepanjang tahun 2002 mencapai 141 kasus. Jumlah kasus ini lebih tinggi dibandingkan pada tahun 2001 sebanyak 38 kasus. Namun dari jumlah tenaga kerja yang ter PHK ternyata pada tahun 2001 merupakan terbanyak sepanjang tiga tahun terakhir ini yang mencapai 5 238 orang dibanding tahun 2002 sebanyak 387 orang. Sedangkan pada tahun yang sama justru jumlah pencari kerja meningkat dengan tajam. Pada tahun 2001 jumlah pencari kerja mencapai 2 424 orang sedangkan pada tahun 2002 jumlah pencari kerja naik tajam hingga mencapai 23 282 orang atau naik lebih dari 10 kali lipat.

Penyerapan Tenaga Kerja
Pertumbuhan penyerapan tenaga kerja secara keseluruhan selama tiga tahun terakhir ini mengalami pertumbuhan hanya sebesar 0,05 persen. Rendahnya tingkat penyerapan tenaga kerja ini diakibatkan karena pada tahun 2001 banyak tenaga kerja yang ter-PHK, pada tahun tersebut penyerapan tenaga kerja mengalami penurunan sebesar minus 7,53 persen dari semula 1 712 954 tenaga kerja menjadi 1 583 917 tenaga kerja. Penurunan yang paling besar terjadi pada sektor jasa-jasa yang mencapai minus 22,34 persen. Sedangkan pada tahun 2002 penyerapan tenaga kerja memperlihatkan kinerja yang menggembirakan yaitu dengan tumbuh sebesar 8,30 persen. Pada tahun 2002, ternyata sektor jasa pula yang mengalami pertumbuhan tercepat dalam penyerapan tenaga kerja yang mencapai 25,23 persen. Fenomena ini memperlihatkan bahwa sektor jasa di Bali sangat rentan dalam mengikuti perkembangan perekonomian Bali terutama dari keadaan sektor industri pariwisata.Pada tahun 2002, sektor pertanian menyerap tenaga kerja sebanyak 552 100 orang atau 32,18 persen dari keseluruhan tenaga kerja di Bali. Sedangkan sektor yang menyerap tenaga kerja terendah adalah sektor listrik dan air sebesar 3 243 orang (0,19%). Sektor perdagangan, rumah makan dan hotel, yang merupakan sektor paling dominan bagi perekonomian Bali, menyerap sebanyak 424 026 tenaga kerja (24,72%). Secara umum penyerapan tenaga kerja di sektor ini menduduki peringkat kedua setelah pertanian. Sektor pertambangan dan penggalian mampu menyerap tenaga kerja 0,45 persen atau sebanyak 7 666 tenaga kerja. Sektor industri pengolahan menduduki peringkat ketiga dengan penyerapan sebanyak 248 693 tenaga kerja (14,50 persen). Sektor bangunan mampu menyerap rtenaga kerja sebanyak 133 833 tenaga kerja (7,80 persen), sektor angkutan dan komunikasi sebanyak 79 694 tenaga kerja (4,65 persen), sektor perbankan dan lembaga keuangan sebanyak 32 882 tenaga kerja (1,92 persen), dan sektor jasa yang menduduki peringkat keempat menyerapan sebanyak 233 315 tenaga kerja atau sebesar 13,60 persen.

Upah Minimum Regional
Perbaikan pendapatan pekerja selalu mendapat perhatian dari pemerintah, karena itu sepanjang tahun 2000 – 2002 kenaikan Kebutuhan Hidup Minimum (KHM) mencapai 36,19 persen, yaitu dari semula Rp. 309 974,- pada tahun 2000 menjadi Rp. 422 153,-. Sedangkan untuk Upah Minimum Provinsi (UMP) mengalami kenaikan yang cukup tajam, yaitu sebesar 79,19 persen dari Rp. 190 300,- menjadi Rp. 341 000,-Perbaikan pendapatan pekerja selalu mendapat perhatian dari pemerintah, karena itu sepanjang tahun 2000 – 2002 kenaikan Kebutuhan Hidup Minimum (KHM) mencapai 36,19 persen, yaitu dari semula Rp. 309 974,- pada tahun 2000 menjadi Rp. 422 153,-. Sedangkan untuk Upah Minimum Provinsi (UMP) mengalami kenaikan yang cukup tajam, yaitu sebesar 79,19 persen dari Rp. 190 300,- menjadi Rp. 341 000,-

Prasarana Ibadah
Sebagian besar penduduk di Bali adalah pemeluk agama Hindu, di mana pada tahun 2002 jumlah penganutnya mencapai 3 126 467 jiwa atau 93,18 persen dari seluruh penduduk. Selebihnya memeluk agama Islam 4,79 persen, Budha 0,64 persen, Kristen Protestan 0,66 persen dan Katholik 0,72 persen.Sementara itu, jumlah sarana ibadah (tempat peribadatan) di Bali setahun terakhir menunjukkan penurunan untuk hampir semua jenis agama, kecuali gereja Protestan yang justru mengalami peningkatan. Pada tahun 2002 jumlah sarana ibadah mencapai 6 400 unit, meliputi sarana ibadah umat Hindu sebanyak 5.617 unit, Islam 584 unit, Budha 51 unit, Kristen Protestan 123 unit dan Katholik 25 unit.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home