Saturday, November 19, 2005

Iseh

Iseh
: Karangasem
Lingkungan lseh merupakan bagian dari Desa Sidemen, Kecamatan sidemen, Kabupaten Karangasem, jaraknya kira-kira 52 km dari kota Denpasar dan dapat dicapai dengan mobil melalui jalan jurusan Desa Satria, langsung ke Sidemen. 0byek Wisata Iseh sudah terkenal sejak sebelum perang kemerdekaan Indonesia karena keindahan panorama alamnya. Disini pernah tinggal pelukis dari Negara Jerman yang terkenal, sedang namanya yaitu Walter Spies yang hidup antara tahun 1895-1942. Di Iseh Walter Spies membangun gubuk kecil untuk studio tempatnya melukis. Selain itu ada juga pelukis terkenal lain yaitu Theo Mejer dari Swiss yang lahir di Bale Swiss pada tanggal 31 Maret 1908. Mereka banyak melukis pemandangan dengan latar belakang gunung Agung. 0byek lukisannya yaitu kehidupan penduduk sehari-hari, para penari dan upacara adat setempat.

Jati Luwih
: Tabanan
Jati Luwih, terletak pada ketinggian 700 m diatas permukaan laut, + 27 km ke arah Utara kota Tabanan. Jati Luwih sebagai Desa Wisata merupakan salah satu obyek yang terindah di Bali, dengan pemandangan yang luas dan panorama sawah yang bertingkat yang tiada taranya. Disebelah utaranya dilatarbelakangi oleh gunung yang berhutan lebat dengan udara yang sejuk dan bersih.

Jemeluk
: Karangasem
0byek wisata Jemeluk terletak di kawasan pantai Desa Purwakerti, Kecamatan Abang, Kabupaten Daerah Tingkat II Karangasem. Jaraknya lebih kurang 101 km dari kota Denpasar atau 21 km dari kola Amlapura. Meskipun fasilitas penginapan di daerah ini belum ada tetapi di Desa Lipah ketimur kira-kira 3 km sudah ada penginapan serta rumah makan yang sangat mencukupi buat melayani wisatawan.

Jimbaran dan Kedonganan
: Badung
Jimbaran dan Kedonganan adalah merupakan tempat dimana para nelayan berlabuh dan pusat pasar ikan di daerah Badung. Pantai putih yang cocok untuk berjemur dan berlayar dengan perahu tradisional. Dan pada saat matahari tenggelam sambil menikmati santap malam akan menyaksikan sinar lampu hotel-hotel yang terletak di tebing-tebing sebelah selatan pantai serta menyaksikan kapal terbang yang akan turun dan mengudara di Airport Ngurah Rai.

Kawasan Batur (Batur Area)
: Bangli
Nama 0byek Wisata Kawasan Batur disesuaikan dengan potensi yang ada yaitu Gunung Batur dan Danau Batur. Pura Batur, yang namanya berasal dari nama Gunung Batur, merupakan salah satu Pura Sad Khayangan yang diemong oleh Warga Desa Batur. Gunung Batur meletus tahun 1917, menyebabkan pura yang tadinya berada di kaki sebelah Barat dipindahkan bersama warga desa ke tempat yang sekarang.Dari Penelokan dapat memandang birunya Danau Batur dan buih-buih ombak yang menepi. Di kawasan ini banyak kapal boat yang melayani wisatawan dan penumpang umum dalam setiap penyeberangan dari Desa Kedisan ke Desa Trunyan. Para nelayan sibuk mengail ikan mujair dan hasil tangkapannya itu di bawa ke Kabupaten Bangli untuk dijadikan makanan khas Bangli yaitu sate mujair. Kawasan Batur berada pada ketinggian 900 m di atas permukaan laut dengan suhu udara sejuk di siang hari dan dingin pada waktu malam hari. Jika ditempuh dari ibu Kota Propinsi kawasan ini berjarak +65 km, dari Ibu Kota Bangli sejauh +23 km. Pura Batur merupakan tempat Pemujaan Umat Hindu di seluruh Bali khususnya Bali Tengah, Utara dan Timur memohon keselamatan di bidang persawahan.

Lingkungan Pura Pulaki(Pulaki Temple)
: Buleleng
Lingkungan Pura Pulaki dibangun di atas tebing berbatu dan langsung menghadap ke laut. Lingkungan Pura ini kelihatan sangat agung dan sesuai dengan namanya yaitu Lingkungan Pura Agung Pulaki. Daya tarik Lingkungan Pura ini yang menonjol adalah lokasi dan lingkungan Pura. Bukit terjal yang berbatu dan kering serta laut membentang di depannya dan bukit tidak jauh di sebelah Baratnya yang berbentuk tanjung kecil memberikan suasana yang sangat menarik.Kera-kera yang hidup di sekitar pura ini, sering berkumpul di halaman pura karena adanya makanan yang diberikan oleh para pengunjung, menambah daya tarik lingkungan pura ini.Lingkungan Pura Pulaki terletak di desa Banyupoh Kecamatan Gerokgak, 53 km sebelah Barat Singaraja. Lingkungan Pura Pulaki itu sesungguhnya merupakan satu kompleks yang terdiri dari lingkungan Pura Agung Pulaki dengan beberapa "Pesanakannya" yaitu lingkungan Pura Melanting, lingkungan Pura Kertha Kawat, lingkungan Pura Pabean dan lingkungan Pura Pemuteran. Lingkungan Pura Melanting ada kaitannya dengan kemakmuran, khususnya yang beraspek perdagangan, sehingga lingkungan Pura Melanting banyak dikunjungi oleh para pengusaha, pedagang, untuk bersembahyang dan membawa "aturan'. Di Lingkungan Pura Pemuteran, terdapat air panas yang banyak dikunjungi baik oleh penduduk lokal maupun wisatawan.

Lingkungan Pura Pusering Jagat(Pusering Jagat Temple)
: Gianyar
Lingkungan Pura ini dianggap sebagai "Pusat Dunia", dimana di sini terdapat sejumlah arca-arca kuno seperti Arca Catuh Kaya dan lain-lainnya. Lingkungan pura ini terletak di Desa Pejeng, tepatnya di sebelah utara lingkungan Pura Kebo Edan. Dan Lingkungan Pura ini pun tak ketinggalan banyak dikunjungi oleh para wisatawan karena letaknya sangat strategis yaitu di komplek wisata purbakala yang lain. Bejana merupakan sebuah benda kekunaan terpenting di lingkungan ini, benda ini terbuat dari batu dengan relief yang menggambarkan para dewa mencari Tirta Amerta. Bejana ini memuat tahun Candra Sangkala 1251 Caka (1329 Masehi), yang menunjukkan masa kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Tahun 1952 arca yang retak telah diperbaiki, dan baru-baru ini bangunan pelindungnya telah dipugar kembali oleh suaka peninggalan sejarah dan purbakala Bali. Oleh Belanda ini disebut juga Sangku Sudamala. Kecuali itu di dalam lingkungan pura ini terdapat juga Gedong Purus, tempat tersimpannya sebuah Lingga dan sebuah Yoni yang dibuat sangat naturalistik. (Purus = Kemaluan laki-laki).

Lingkungan Pura Dalem Sangsit(Sangsit Temple)
: Buleleng
Daya tarik yang menonjol dari lingkungan pura ini adalah relief pada tembok luar pura yang menggambarkan ceritera "Bima Swarga", yang pada pokoknya menggambarkan adanya hukuman imbalan yang diterima setiap orang setelah yang bersangkutan meninggal sesuai dengan perbuatannya. Misalnya hukuman yang harus diterima oleh seorang yang melakukan perbuatan zinah di saat hidupnya. Relief ini juga mengandung makna filosofis tentang hak dan kewajiban umat Hindu. Misalnya digambarkan seorang wanita yang harus menyusui seekor ulat raksasa karena tidak mampu memberikan keturunan.Relief ini karena umurnya dibeberapa bagian telah mulai kabur namun di beberapa bagian masih nampak jelas. Adapun patung patung yang berwajah seram sebagaimana umumnya terdapat pada setiap lingkungan Pura Dalem yang ada kaitannya dengan kematian, memberikan suasana seram dan menakutkan, menambah juga daya tarik lingkungan Pura ini bagi wisatawan. Lingkungan Pura Dalem ini terletak di Desa Sangsit 8 km sebelah Timur Singaraja.

Linkungan Pura Uluwatu(Uluwatu Temple Area)
: Badung
Lingkungan Pura Luhur Uluwatu tersebut diperkirakan berdiri sekitar abad 11 , seusia dengan Empu Kuturan yang mendirikan pelinggih di lingkungan Pura Besakih. Tempat tersebut telah dipilih oleh Pendeta Danghyang Nirarta untuk mencapai moksa yaitu menyatu dengan Sang Hyang Pencipta Alam Semesta. Di Lingkungan Pura tersebut telah tumbuh semak-semak yang dijaga oleh kera-kera jinak dan dilindungi oleh masyarakat sekitarnya.Lokasi Uluwatu terletak pada daerah perbukitan batu-batu karang di sebelah Selatan Pulau Bali.Uluwatu termasuk wilayah Desa Pecatu, Kecamatan Kuta, Kabupaten Badung. Daerah tersebut jika ditempuh dari Denpasar kurang lebih 30 km ke arah Selatan lewat kawasan pariwisata Kuta, Bandara Ngurah Rai Tuban dan Desa Jimbaran. Tempat tersebut sangat baik jika dipakai untuk olah raga papan selancar.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home