Sunday, November 20, 2005

Jogja - Wisata 1

WISATA


Tari Bedaya Parta Krama
Tari Bedaya ini merupakan salah satu karya KRT. Sasminta Dipura. Sebagaimana lazimnya dalam tradisi tari jawa, tari Bedaya ini ditarikan oleh 9 orang penari putri.Bedaya Partakrama mengisahkan perjuangan para Pandawa dalam mendapatkan Dewi Sumbadra yang dipercaya sebagai penjelmaan Dewi Sri, untuk dinikahkan dengan Arjuna. Perjuangan itu akhirnya berhasil, Arjuna pun dipersandingkan di pelaminan dengan Dewi Sumbadra.

Tari Guntur Segara
Guntur Segara sabagai salah satu genre wireng gagah gagrag Ngayogyakarta dikenal sebagai hasil ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwono I. Tari ini ditarikan oleh 4 orang penari putra dengan menggunakan ragam tari gagah kambeng dan memakai properti gada dan bindhi serta tameng. Sumber materi dramatik yang digunakan adalah kisah Panji, yang menggambarkan peperangan antara Raden Guntur Segara melawan Raden Jayasena.

Beksan Gatutkaca vs Seteja
Beksan Gatutkaca vs Suteja ini sesungguhnya merupakan pethilan (bagian) dari sebuah sajian wayang wong gaya Yogyakarta dalam kisah Rebutan Kikis Tunggarana. Dalam lakon tersebut, dikisahkan perjuangan dari Gatotkaca maupun Suteja dalam mempertahankan batas wilayah kekuasaanya yang berupa sebuah hutan bernama hutan "Tunggarana". Berbagai jalan musyawarah telah ditempuh tetapi mengalami kegagalan. Akhirnya satu-satunya jalan penyelesaian yang terpaksa dipilih adalah melakukan perang tanding antara Raden Gatutkaca melawan Raden Seteja. Keduanya dikisahkan melakukan perang tanding dengan naik kendaraan berupa burung garuda. Raden Gatutkaca naik garuda bernama Wildata, dan Raden Seteja naik garuda bernama Wilmana.

Langen Kusuma Banjaransari
Dalam suatu peristiwa, Raden Banjaransari tiba di kerajaan Sigaluh. Pada waktu yang hampir sama, abdi setia yang mencarinya yaitu Ujungkelan tiba pula di kerajaan Sigaluh. Kehadiran Ujungkelan di kerajaan Sigaluh dituntun oleh Garangan Seta. Kerajaan Sigaluh dipimpin oleh seorang raja puteri bernama Rayungwulan yang didampingi oleh patih beserta seluruh prajurit yang juga terdiri dari para puteri.Dikerajaan Sigaluh, Banjaransari berperang melawan Rayungwulan dan para prajurit puterinya. Peperangan ini dicegah oleh begawan Jatiraga. Disampaikan oleh Begawan Jatiraga bahwa sesungguhnya Banjaransari adalah jodoh Rayungwulan. Langen Kusuma Banjaransari diciptakan oleh K.G.P.A.A. Paku Alam V (1878 - 1900) yang menekankan tembang sebagai dialog yang dipergunakan. Beberapa pemimpin Pura Paku Alaman sesudahnya, yaitu K.G.P.A.A. Paku Alam VII (1906 - 1937) dan K.G.P.A.A. Paku Alam VIII (1937 - 1996) memberi warna estetis sesuai dengan masanya. Sajian ini mencoba mengangkat perpaduan koreografi yang pernah diketengahkan.

Beksan Bandabaya
Beksan Bandabaya diciptakan oleh K.G.P.A.A. Paku Alam II (1830 - 1858), menggambarkan keterampilan para prajurit dalam berkuda dengan menggunakan senjata berupa pedang beserta perisainya. Beksan Bandabaya diperagakan oleh 4 penari dan biasanya dibantu oleh 4 ploncon sebagai pembawa properti tari.Tata busana yang dipergunakan dalam beksan ini terdiri dari kain panjang yang dikenakan dengan cara sapit urang, celana panji panji, tutup kepala kodhok bineset, kaweng, buntal, binggel, epek timang, bara samir, setagen , gelang, kalting, keris disertai untaian bunga.

PERGELARAN OPERA RAJA BALI CHANDRAKIRANA
Pertunjukan ini adalah suatu proses penggabungan dua kebudayaan barat dan timur, dan memiliki konsep opera barat dan bentuk teater Indonesia.Sedangkan untuk iringan musiknya menggunakan gamelan jawa dan musik orchestra. Begitu juga dengan vokal yang digunakan memakai bentuk syair dan tetembangan. Karena menggunakan bentuk opera barat maka pementasan ini menggunakan bentuk pemanggungan berdasarkan konvensi barat dikolaborasi dengan bentuk pementasan wayang kulit dengan adanya dalang yang bertugas sebagai narator, sedangkan pemainnya tentu saja para penyanyi opera.Melihat bentuk kolaborasi ini pada akhirnya akan menggundang sebuah pertanyaan, apakah dua kebudayaan ini bisa menyatu? jawabannya adalah "ya", karena harmonilah yang mengikat perbedaan tersebut. Walaupun dilain pihak suatu kebudayaan dapat berbenturan karena memiliki pandangannya sendiri. Dan tidak, karena opera bukan tempat untuk mempersatukan dua kebudayaan dan tradisi yang berbeda, walaupun ada pandangan yang mengatakan, "alangkah indahnya dunia ini bila semua bisa menyatu". Pada akhirnya, opera ini merupakan refleksi dari penjelajahan hidup kita di dunia, beberapa aspek dari dua kebudayaan yang berbeda dapat menyatu dengan indahnya di luar anggapan anggapan lain.

Tari Serimpi Sangopati

Tarian srimpi sangopati karya Pakubuwono IX ini, sebenarnya merupakan tarian karya Pakubuwono IV yang memerintah Kraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1788-1820 dengan nama Srimpi sangopati kata sangapati itu sendiri berasal dari kata “sang apati” sebuah sebutan bagi calon pengganti raja.
Ketika Pakubuwono IX memerintah kraton Surakarta Hadiningrat pada tahun 1861-1893, beliau berkenaan merubah nama Sangapati menjadi Sangupati.
Tarian ini sengaja di tarikan sebagai salah satu bentuk politik untuk menggagalkan perjanjian yang akan diadakan dengan pihak Belanda pada masa itu. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi agar pihak keraton tidak perlu melepaskan daerah pesisir pantai utara dan beberapa hutan jati yang ada, jika perjanjian dimaksudkan bisa digagalkan.
Tarian Serimpi Sangaupati sendiri merupakan tarian yang dilakukan 4 penari wanita dan di tengah-tengah tariannya dengan keempat penari tersebut dengan keahliannya kemudian memberikan minuman keras kepada pihak Belanda dengan memakai gelek inuman.
Saat ini Serimpi Sangaupati masih sering ditarikan, namun hanya berfungsi sebagai sebuah tarian hiburan saja. Dan adegan minum arak yang ada dalam tari tersebut masih ada namun hanya dilakukan secara simbol; saja, tidak dengan arak yang sesungguhnya.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home