Sunday, November 20, 2005

Jogja - Wisata 2

Wayang Kulit
Wayang Kulit biasanya dibuat dari kulit kerbau atau kulit lembu. Wayang kulit kini telah menjadi warisan budaya nasional dan sudah sangat terkenal di dunia sehingga banyak orang asing yang datang dan mempelajari seni pewayangan. Pertunjukan wayang kulit sampai saat ini tetap digemari sebagai tontonan yang menarik, biasanya disajikan semalam suntuk.

KETHOPRAK
Kethoprak adalah kesenian tradisional yang penyajiannya dalam bahasa jawa ceriteranya bermacam-macam berisi dialog tentang sejarah sampai seritera fantasi serta biasanya selalu didahului dengan tembang Jawa. Kustum dan dandannya menyesuaikan dengan adegan dan jalan ceritera serta sselalu diiringi dengan irama gamelan dan keprak.

KARAWITAN
Musik gamelan tradisional jawa yang dimainkan oleh sekelompok wijaga dan diiringi oleh nyanyian dari waranggono dan wiraswara biasanya disebut ' uyon-uyon ', sedangkan kalau tanpa diiringi oleh nyanyian dari waranggono/wiraswara disebut 'soran'

JATHILAN
Merupakan tarian yang penarinya menggunakan kuda kepang dan dilengkapi unsur magis. Tarian ini digelar dengan iringan beberapa jenis alat gamelan seperti saron, kendang, dan gong.


Langen Mondro Wanoro
Langen Mondro Wanoro yang merupakan kombinasi antara berbagai jenis tarian, tembang, drama dan irama gamelan adalah salah satu bentuk kesenian tradisional Yogyakarta. Karakteristik tarian ini adalah para penarinya berdiri dengan lutut atau jengkeng sambil berdialog dan menyanyi "Mocopat". Cerita Langen Mondro Wanoro diambil dari kisah Ramayana dengan lebih banyak menampilkan wanara/kera.

MUSEUM SONOBUDOYO
Museum ini terletak di sebelah utara Alun – alun Utara Kraton Yogyakarta, memiliki koleksi budaya terlengkap setelah museum pusat Jakarta. Bangunan dengan arsitketur jawa ini dibangun tahun 1935 sebuah gapura yang bentuk arsikteknya menyerupai gapura pada Masjid Kudus menghubungkan pendopo dengan bangunan joglo induk, yang keseluruhannya merupakan arsitektur bangunan yang indah. Didalamnya memamerkan barang – barang tembikar dari zaman Neolitikum, arca – arca dan benda-benda perunggu dari abad VIII sampai abad X yang merupakan kelengkapan dari candi – candi di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah .Berbagai jenis wayang dan topeng, gamelan, pusaka – pusaka, atau senjata yang berusia tua yang merupakan peninggalan budaya masyarakat Jawa dan bahkan koleksi budaya Bali terdapat disini. Museum ini juga memadai , terutama buku – buku yang berkaitan dengan kebudayaan, juga menyimpan warisan budaya rohani yang tiada ternilai tingginya. Museum ini dibuka pada : hari Selasa s/d Kamis jam : 08.00 – 13.00, Hari Jum’at jam : 08.00 – 11.00, sedangkan hari Sabtu pukul : 08.00 s/d 13.00 dan Minggu jam : 08.00 – 12.00, hari Senin dan hari – hari besar / libur tutup.
Sejarah Ringkas Pada tahun 1919 di Surakarta berdiri Yayasan Java Instituut yang bergerak dibidang kebuayaan Jawa, Madura, Bali dan Lombok. Yayasan ini dipimpin oleh Prof. Dr.D.A. Husein Jayadiningrat dibantu oleh Koperberg (sekretaris), Ir. Karsten (perencana bangunan museum), Stutterheim (arkeolog), P.H.W. Sitson dan K.P. Bosch (ahli museum dan penasehat museum pemerintah).
Dalam kongres yang dilaksanakan pada tahun 1924, Java Instituut memutuskan akan mendirikan sebuah museum di Yogyakarta. Realisasi berikutnya dari keputusan kongres Java Instituut, adalah pembentukan sebuah panitia kecil pada thun 1931 dengan tugas mempersiapkan berdirinya sebuah museum. Panitia dipimpin Ir. Th. Karsten, P.H.W. Sitsen, dan S. Koperberg. Pada Tahun 1934 panitia kecil diberi wewenang untuk menentukan lokasi serta corak arsitektur bangunan museum. Tanah dan bangunan Schouten hadiah dari Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dimanfaatkan utnuk mendirikan museum ini. Kemudian dibangunlah pendapa dengan sengkalan "Buta Ngrasa Esthining Lata" yang artinya tahun 1865 Jawa atau tahun 1934 M. Peresmian pembukaan Museum Sonobudoyo ini dilakukan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII pada hari Rabu Wage, 9 Ruwan 1866 Jawa dengan ditandai candrasengkala " kayu Winayang ing Brahmana Budha" yang berarti tahun 1866 Jawa atau tanggal 6 Novemver 1935 Masehi.

Bangunan
Bangunan museum berupa rumah joglo dengan model masjid keraton Kasepuhan Cirebon, luas bangunan 7.867 m2. Bangunan ini terdiri : ruang pameran, pendapa kecil, pendapa besar, gandok kiri dan kanan, gudang, laboratorium, ruang konsevasi, perpustakaan, audotorium, dan perkantoran.

Koleksi
Museum ini memiliki koleksi benda-benda peninggalan dari masa prasejarah sampai masa Islam. Koleksi tersebut berupa : kapak batu, kubur batu, patung, teracota, wayang, topeng, kain batik dan sebagainya.Jumlah koleksi : 42.589 buah. Koleksi unggulan berupa topeng emas Puspasasira yang terbuat dari bahan emas, topeng tersebut merupakan perwujudan dari ratu Gayatri.

Fasilitias Pendukung
Museum ini memiliki fasilitas pendukung : ruang pertemuan, penginapan untuk tamu khusus, perpustakaan, dan ruang pameran.
Alamat : Jalan Trikora Yogyakarta Telepon : (0274) 376775 / 385664

MUSEUM SASANA WIRATAMA
Museum ini sering disebut sebagai munumen Diponegoro karena merupakan bekas rumah kediaman Pangeran Diponegoro seorang bangsawan Kraton Yogyakarta yang terkenal sebagai patriot dalam melawan penjajah Belanda antara tahun 1825-1830. Kini di dalam bangunan-bangunan ini yang telah dipugar, tersimpan berbagai peninggalan yang berupa peralatan perang dan peralatan lain yang pernah dipergunakan beliau dan para pengikutnya yang setia. Museum ini terletak di daerah Tegalrejo, lebih kurang 4 Km dari pusat kota Yogyakarta. Museum Sasana Wiratama terbuka untuk kunjungan masyarakat umum, setiap hari kerja antara senin sampai sabtu pukul 08.00 – 13.00.

Sejarah Ringkas
Pembangunan Museum Pangeran Diponegoro ini diprakarsai oleh Mayjen TNI Surono, lalu diteruskan oleh Mayjen TNI Widodo (alm). Pembangunan museum ini menempati rumah kediaman Pangeran Diponegoro di Tegalrejo, Yogyakarta, dan pada tanggal 9 Agustus 1969 bangunan tahap I telah selesai dibangunan induk dan diresmikan oleh Jendral TNI (Purnawirawan) Soeharto.

Bangunan
Museum ini menempati areal tanah seluas 2 hektar, di kampung Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta, bangunan inti monumen berarsitektur tradisional Jawa berbentuk Joglo, terdiri pendapa dan pringgitan. Bangunan tersebut derakhir dipugar tahun 1987.

Koleksi
Koleksi dari museum Pangeran Diponegoro ini berjumlah 100 buah yang terdiri dari berbagai jenis senjata tradisional seperti, tombak, keris, pedang, panah dan bandil.
Koleksi unggulan dari museum ini berupa tembok berlubang (jebol) yang menurut sejarah merupakan tempat meloloskan diri Pangeran Diponegoro dari kepungan kompeni. Juga ada benda-benda yang diperlakukan khusus yaitu peninggalan Sri Hamengku Buwono II yang berasal dari tahun 1752, benda-benda tersebut berupa ketipung (kendang kecil) dan wilahan bonang penembung yang terbuat dari kayu dan perunggu berwarna merah dan kuning.

Fasilitas Pendukung
Fasilitas pendukung bisa dimanfaatkan oleh masyarakat umum berupa ruang pertemuan dimanfaatkan sebagai gedung serbaguna dan penginapan.
Alamat : Jalan H.O.S. Cokroaminoto TR III/430 Tegalrejo, Yogyakarta Telepon : (0274) 622668

MUSEUM PANGLIMA BESAR JENDERAL SUDIRMAN SASMITALOKA
Museum ini terletak di jalan Bintaran Yogyakarta dan merupakan bekas rumah kediaman Pang-Lima Besar Jendral Sudirman, Jendral pertama dalam Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Dalam Museum ini, para pengunjung dapat menyaksikan berbagai senjata api (diantaranya merupakan senjata api buatan sendiri) dan berbagai peralatan perang lain yang dipergunakan dalam revolusi phisik menghadapi musuh-musuh negara. Diantara benda-benda peninggalan Panglima Besar Sudirman, terdapat tandu (kursi yang dilengkapi dengan tangkai pemikul) yang setia membawa beliau selama bergerilya, dibuka tiap hari jam ; 08.00-14.00 WIB.

MUSEUM DIRGANTARA
Museum ini terletak di Lanuma Adisucipto. Didalam museum ini terdapat foto tokoh - tokoh AURI, panji - panji / pataka, kapal terbang yang dipergunakan Angatan Udara Indonesia dari tahun 1945 sampai dengan sekarang, dan benda - benda yang ada hubungannya dengan perjuangan AURI. Untuk berkunjung ke museum ini, pada saat kedatangannya pimpinan rombongan / pengunjung perlu lapor di pos penjagaan.Museum ini dibuka tiap hari : Minggu s / d Kamis jam : 08.00 - 13.00 Jum't s / d Sabtu jam 08.00 - 12.00. Senin dan hari besar tutup

MUSEUM BIOLOGI
Terletak di jalan Sultan Agung Nomor : 22 Yogyakarta merupakan sarana pendidikan tentang satwa ( fauna ) dalam alam tumbuhan ( flora ) Indonesia . Dalam museum ini dapat disaksikan berbagai macam herabrium kering dan basah, berbagai jenis binatang dan kerangkanya. Sebagian diantaranya diperagakan dalam bentuk diorama, yang memperlihatkan kehidupan binatang dan tumbuh-tumbuhan tersebut, menyerupai keadaan dialam aslinya. Museum ini terbuka pada setiap hari : Selasa s/d Kamis pukul 08.00 - 13.00, Jum;at dari pukul 08.00 - 11.00, Sabtu dari pukul 08.00 - 12.30, dan Minggu pukul 08.00 - 12,00.

MUSEUM AFFANDI
MuseumAffandi terletak di jalan Solo No 167, tepatnya di tepi barat sungai Gajah Wong. Komplek museum yang menempati tanah seluas 3.500 meter persegi terdiri dari bangunan museum dan bangunan rumah yang dahulu merupakan rumah tempat tinggal pelukis Affandi beserta keluarga, Bangunan komplek museum Affandi berbentuk rumah panggung dengan konstruksi tiap peyangga utama dan beton dari tiang- tiang kayu berukir. Koleksi lukisan Affandi yang tersimpan di museum berjumlah 300 buah yang sekarang dipamerkan dimuseumnya. Pada museum I tersimpan hasil karya Affandi dari tahun ketahun hingga akhir hidupnya, Pada Museum II merupakan ruang pameran hasil karya Affandi, sulaman istrinya serta lukisan Kartika Putrinya.Di samping lukisan Affandi dan keluarganya,dimuseum ini juga tersimpan beberapa lukisan karya pelukis Indonesia lainnya.Sejak tanggal 24 September 1984 Museum Affandi dikelola oleh Yayasan Affandi .Kemudian pada tahun 1997 Yayasan Affandi membangun galeri ketiga untuk melengkapi fasilitas dan sarana pendukung yang ada.Bangunan galeri ketiga diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X pada tanggal 18 Mei 2000.
Museum dibuka pada hari Senin - Minggu pukul 08.00 - 13.30 dan Hari Sabtu pukul 09.00 - 13.00.

MUSEUM DEWANTARA KIRTI GRIYA
Museum Dewantara Kirti Griya yang berlokasi di JalanTaman Siswa No 31 Yogyakarta dulu merupakan kediaman keluarga Ki Hajan Dewantara. Museum ini merupakan museum memorial milik Yayasan Persatuan Perguruan Taman Siswa. Museum yang terletak dijantung kota Yogyakarta dengan luas bangunan 300 meter persegi dan luas tanah 2700 meter persegi bisa setiap saat dikunjungi wisatawan dengan kendaraan umum, bis kota , becak, maupun andong. Koleksi Museum Dewantara Kirti Griya berupa kumpulan surat - surat Ki Hajar Dewantara yang berjumlah 876 pucuk, perlengkapan rumah tangga, dokumentasi, foto - foto dan satu unit film dengan judul Ki Hajar Dewantara Pahlawan Nasional. Berkat kemajuan tehnologi film dapat disajikan kepada para pengunjung sehingga suara Ki Hajar Dewantara yang sedang berdialog dapat dinikmati dalam ruangan khusus.


Monument of Jogja Kembali (Monjali)
Di Jl. Lingkar Utara berdiri Monumen Yogya Kembali untuk mengenang berfungsinya kembali Yogyakarta sebagai Ibukota Republik Indonesia, 6 Juli 1949. Bangunan setinggi 31 meter ini melambangkan pegunungan surgawi yang terletak di garis lurus khayal antara keraton di sebelah selatan dan Gunung Merapi di sebelah utara.
Monumen ini berlantai tiga. Lantai pertama terdiri atas sebuah museum, sebuah perpustakaan, sebuah auditorium, dan kafetaria. Lantai dua terdiri atas 10 diorama yang menggambarkan perjuangan rakyat Yogyakarta untuk merebut kembali ibukotanya dari penjajah Belanda yang menguasai Yogyakarta sejak Desember 1948 hingga Juli 1949.
Di bagian atas gedung, tergambar 40 relief yang menceritakan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia untuk meraih kemerdekaannya mulai dari peristiwa proklamasi 17 Agustus 1945 hingga pengakuan Internasional atas status Indonesia pada 27 Desember 1949.

Museum Keraton Yogyakarta

Sejarah ringkas
Museum Keraton dirintis pada masa Pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Pada masa Pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, urusan kepariwisataan dipercayakan kepada Parentah Luhur Keraton yang kemudian berganti nama Kawedanan Kori, dan akhirnya berganti nama Tepas Dwara Pura. Pemandunya diambil dari KHP Widya Budaya, seiring dengan makin banyaknya pengunjung maka Sri Sultan Hamengku Buwono IX mendirikan Bebadan Museum Keraton.Sejak 1 Oktober 1969 kantor Bebadan Museum Keraton, dan menempati bangsal Pecaosan yang terletak di sebelah barat gerbang Sri Manganti, persisnya di Jalan Rotowijayan. Keraton memiliki beberapa museum yang lebih dikenal dengan Museum Keraton Yogyakarta, yang didalamnya terdapat museum, Lukisan, Keraton, Hamengku Buwono IX dan museum Kereta, Museum Hamengku Buwono IX terletak dalam kompleks Keraton yang didalamnya berisi benda-benda yang pernah digunakan Sri Sultan Hamengku Buwono IX, termasuk perlengkapan fotografi, Kyai Garuda Yeksa kereta yang digunakan untuk kirab upacara penobatan Sri Sultan Hamengku Buwono VI - X; Kyai Jaladara digunakan tugas keliling desa; Kyai Kanjeng Jimat digunakan Sri Sultan Hamengku Buwono I sampai III untuk acara Garebeg atau menjemput tamu-tamu khusus.
Bangunan Museum ini didirikan di atas tanah seluas 14.000 m2 dengan ciri arsitektur Jawa.

Koleksi
Museum Keraton memiliki berbagai macam jenis baik yang terbuat dari perunggu, kayu jati, kertas, kaca besi dan kulit antara lain : Peralatan rumah tangga, keris, tombak, wayang, gamelan, naskah kuno, foto dan lukisan diantaranyaada yang berusia sampai 200 tahun.Koleksi unggulan, berupa perlengkapan jumenengan (penobatan raja), terdiri atas banyak, dalang, sawung, galing, hardawalika, kutuk, kandil, kacu mas, dan cepuri yang dibuat dari bahan kuningan sehingga semua peralatan tersebut berwarna kuning keemasan.Benda-benda tersebut secara simbolis menggambarkan sifat-sifat raja yang arif dan bijaksana, koleksi peralatan jumenengan diperlakukan secara khusus, seperti juga benda-benda yang pusaka yang lain yang dianggap bertuah, selalu disajeni pada hari hari tertentu.

Kegiatan Pendukung

Kegiatan rutin dalam rangka mendukung peningkatan apresiasi masyuarakat terhadap museum antara lain :

  • Macapat Jum'at 10.00 - 12.00 wib Bangsal Sri Manganti
  • Karawitan Senin/Selasa 10.00 - 12.00 wib Bangsal Sri Manganti
  • Wayang Kulit Sabtu 10.00 - 12.00 wib Bangsal Sri Manganti
  • Wayang Orang Minggu 11.00 - 13.00 wib Bangsal Sri Manganti


Pelayanan :
Senin - Kamis
08.30 - 14.00 wib
Jum'at
08.30 - 13.00 wib
Sabtu
08.30 - 14.00 wib
Minggu
08.30 - 14.00 wib


Tiket Masuk
dewasa
Rp. 2.500,-
anak-anak
Rp. 1.500,-
rombongan
Rp. 2.500,-
wisatawan asing
Rp. 7.500,-

Alamat Kompleks Keraton Yogyakarta
Nomor Telephon/Fax
(0274) 373721


MUSEUM KERETA KRATON

Pandangan depan bangunan ini ibarat jet tempur F.16 buatan Amerika yang akan leading atau atau take off dari landasan kapal induk untuk melakukan pengeboman ke sasaran-saran di Bagdad dan Kuwait. Berseberangan dengan Bangsal Pagelaran, tepatnya disebelah Barat jalan Rotowijayan dan tidak sulit untuk dijangkau waisatawan. Cukup ditempuh dengan jalan kaki setelah kita kunjungi Bangsal Pagelaran dan Bangsal Sitihinggil, sebelum menuju ke Pusat Kraton.
Berbeda dengan koleksi museum yang lainnya yang dimiliki Kraton. Koleksi museum inidikhususkan untuk jasa angkutan yang pernah digunakan Sultan-Sultan Yogyakarta dan kerabat kraton dalam segala macam kegiatan. Terutama upacara penobatan Sultan, kirap (pawai) keliling kraton dengan kereta dan mengantar jenazah Sultan sampai peristirahatan terakhir raja-raja di Imogiri Kabupaten Bantul.
Bangunan yang mirip dengan pesawat F.16 dengan sayap melebar tentu berpengaruh terhadap pengaturan ruangannya. Loket pelayanan ticket tepat di pintu masuk, dan ticketnyapun pasti terjangkau oleh setiap pengunjung.


Koleksi Kereta Kraton :


. Kereta Kyai Jaladara

diperguankan Sri Sultan Hamengku Buwono IV, untuk tugas inspeksi ke desa-desa. Buatan Perancis (LABOURDDETTE) Tahun 1818.

Kereta Kutaka Kaharjo

Pada masa Pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII, sering dipergunakan pageran-pangeran dan dibuat Jerman Tahun 1927

Kereta Kyai Manda Juwala

Dipergunakan Pangeran Diponegoro untuk sowan ke kraton dari tegalrejo, buatan Inggris tahun 1800

Kereta Kyai Kanjeng Nyai Jimad

Dipergunakan sejak Sri Sultan Hamengku Buwono I sampai III, khusus untuk upacara kebesaran (grebeg) dan menjemput tamu-tamu jenderal, buatan Belanda tahun 1750.

Kereta Kyai Garuda Yeksa

diperguankan untuk penobatan Sri Sultan Hamengku Buwono VI sampai dengan X, butan Belanda tahun 1861

Kereta Kyai Harsunaga

Diperguankan Sri Sultan Hamengku Buwono VI sampai dengan VIII, untuk menonton pacuan kuda buatan Belanda tahun 1870.

Kereta Landower Wisman

digunakan Bupati Kraton, buatan tahun 1938
Kereta JanasahUntuk mengantar janasah Sri Sultan, kepemakaman raja-raja di Imogiri


MUSEUM NYOMAN GUNARSO

Museum ini didirikan pada tanggal 31 Maret 1989 atas Prakarsa Drs. Nyoman Gunarso , seorang pelukis yang terletak di jalan Wulung No.43 Papringan Catur Tunggal, Depok Sleman merupakan museum tempat melestarikan karya-karya pelukis, khususnya pelukis kontemporer. keistimewaan dari museum ini tidak hanya menyimpan lukisan saja,akan tetapi tempat dimana para seniman seniwati mengadakan komunikasi melalui kegiatan sarasehan, ceramah, seminar dll. Museum ini bersifat swasta swadaya murni yang khusus mendokumentasikan karya-karya pelukis Indonesia yang berprestasi dan profesional.

Museum buka pada hari Senin - Sabtu pukul 08.30 - 15.30 sedangkan hari Minggu tidak menerima kunjungan.


MUSEUM PERJUANGAN
Alamat : Jalan Kolonel Sugiyono 24 ,Yogyakarta, Telepon:(0274) 387576

Pimpinan :Drs Suharja (Koordinator),

Status Museum : Museum Negeri ,

Jenis Museum : Museum Khusus

Riwayat berdirinya :

Museum berdiri atas inisiatif panitia peringatan :Setengah abad Kebangkitan Nasional Propinsi DIY" pada Tahun 1958 yang dimaksudkan untuk mengenang sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia Pembangunan dimulai dengan peletakan batu pertama oleh Sri Paku Alam VIII , pada tgl 17 Agustus 1959 dan Pembanguynan itu selesai pada TGL 29 Juni 1961 dengan peletakan batu terakhir, peresmian sekaligus pembukaan Museum oleh Sri Paku Alam VIII . Mula-mula Museum dikelola oleh Panitia " Setengah Abad Kebangkitan Nasional DIY " ( 1961-1963 ) .Selanjutnya pada Tahun 1963 sampai dengan 1969 Panitia mengalami kesulitan dalam mencari dana sehingga Museum tidak dibuka oleh Umum. Pada Tahun 1970 -1974 Museum masih ditutup dan berada dibawah Pemda Propinsi DIY c.q. Inspeksi Kebudayaan Dinas P &K Propinsi DIY . Pada Tahun 1974-1980 Museum masih ditutup,namun pengelolaan Museum dilimpahkan ke Kanwil Depdikbud Propinsi DIY . Dan ,baru pada Tahun 1980-1997 Museum itu disatukan dengan Museum Negeri Sonobudoyo, dan dibuka untuk umum. Pada tgl 5 September 1997 Museum Perjuangan disatukan dengan Museum yang seaspek ( Museum Sejarah ) yaitu Museum Benteng Yogyakarta dan menjadi Museum Benteng Yogyakarta Unit II .


MUSEUM ULLEN SENTALU
Sejarah ringkasKeberadaan Museum Ullen Sentalu tidak dapat dipisahkan dengan Taman Kaswargan yang letaknya satu kawasan dengan tempat-tempat bersejarah di Kaliurang, seperti Pesanggrahan Hastorenggo yang dibangun Sultan Hamengku Buwono VII (1877-1921) dan Wisma Kaliurang tempat diselenggarakannya Perundingan Komisi Tiga Negara pada masa Revolusi Kemerdekaan RI (1945-1949). Museum ini merupakan salah satu museum budaya jawa yang berada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Awal mula berdirinya museum tersebut berangkat dari kecintaan sebuah keluarga yang dibesarkan di lingkungan batik dan tekstil. Melihat kenyataan bahwa pada tahun 1970-an banyak batik kuno diburu oleh kolektor-kolektor asing, menimbulkan rasa prihatin keluarga tersebut yang kemudian mendirikan Yayasan Ullen Sentalu dengan tujuan menyelamatkan batik-batik kuno. Upaya itu mendapat sambutan positif dari empat keraton dinasti Mataram, bahkan mereka bersedia menjadi pelindung yayasan, antara lain Sri Paduka Paku Alam VIII (Pengageng Puro Pakualaman 1937-1998), Sunan Paku Buwono XII, Gusti Kanjeng, Ratu Alit, KGPH Poeger, dan GRAy Nurul Kusumawardhani. Melalui kerabat keraton itulah Museum Ullen Sentalu mendapatkan hibah benda-benda pribadi berupa kain batik, asesoris, foto, naskah, dan cerita-cerita kehidupan di dalam keraton. Pada tanggal 1 Maret 1997, Museum Ullen Sentalu diresmikan oleh Sri Paduka Paku Alam VIII, salah seorang sesepuh Yayasan Ullen Sentalu.BangunanDidominasi oleh gaya arsitektur indah yang lazim disebut dengan istilah In the field architecture. Penggagasan konsep arsitektur Museum Ullen Sentalu adalah DR.KP.Samuel Widyadinningrat.Museum ini mempunyai dua bangunan utama , yaitu Gua Selo Giri (bangunan bawah tanah) dan Kampung Kambang (kompleks bangunan diatas kolam air). Kampung Kembang terdiri atas bagian bangunan Bale Sekar Kedaton, Pendapa Penganten Gaya Yogya, Ruang Batik Pesisiran, dan Ruang Putri Dambaan.

Koleksi museum ini,

tersimpan di Gua Selo Giri dan Kampung Kambang ,baik berupa lukisan, kain batik, dan juga naskah .Guwa Selo Giri berisikan lukisan, foto- foto kerabat KeratonKampung Kambang terdiri atas lima balai atau ruangan.Bale Sekar Kedaton mengambil inspirasi kamar putri keraton Surakarta.Pendapa Penganten Gaya Yogya terdapat 11 kain batik ( dibuat tahun 1950-an)

Ruang batik Yogyakarta dan Surakarta yang menyimpan koleksi kain batik dari beberapa bangsawan keraton Yogyakarta.Ruang batik Pesisir museum menampilkan batik gaya pesisir yang tumbuh dikota-kota pantai utara jawa.Ruang Putri Dambaan ruang yang diresmikan oleh tokoh yang pernah dijuluki oleh Ratu Belanda yang mengisahkan perjalanan hidup putri permaisuri Mangkunegara VII. Kisah sang putri dari bayi ,remaja, dewasa hings meningkah.

Fasilitas Pendukung

Untuk lebih mengacu pada pedoman suatu penyelenggaraan sebuah museum yang swadaya maka Taman Kaswaran dilingkungpi sarana restoran dan cafe, toko souvenir, dan galeri.

Pelayanan

Museum ini melayani pengunjung setiap hari Selasa-Minggu, pukul 09.10 - 15.30.hari libur nasional tetap buka.


Museum Tembi (Rumah Budaya Tembi)
Sejarah Singkat Museum tembi kemudian beberapa tahun berganti nama menjadi Rumah Budaya Tembi, diresmikan dan diperkenalkan kepada masyarakat umum tanggal 21 Oktober 1999, bersamaan dengan launching Ensiklopedi Kebudayaan Jawa. Rumah Dokumen Budaya tembi berada dibawah Yayasan Kebudayaan Jawa atas inisiatif Drs. P. Swantoro, yang merasa prihatin atas adanya pemahaman merosotnya budaya jawa, keberadaan Museum Tembi tidak terlepas dari Institusi sebelumnya, yakni Lembaga Studi Asia Bidang Kajian Jawa yang pada tahun 1994 berkantor di Jl. M.T. Haryono 40, Surakarta.Pada tanggal 6 September 1995 Lembaga Studi Asia Bidang Kajian Jawa, dipindah ke Dusun Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul Yogyakarta. Visi dan Misi Rumah Dokumentasi Budaya Tembi diharapkan sebagai salah satu pusat informasi kebudayaan Jawa yang dapat diakses ke seluruh dunia sebagai bentuk kontribusi terhadap proses keseimbangan dalam rangka tata dunia baru.

Bangunan

Bangunan Museum ini berdiri di atas tanah seluas 212 m2, serta dilengkapi fasilitas antara lain : perpustakaan, pendapa, pringgitan, kantor, galeri dan sebagainya, dan menempati tanah seluas 1.057 m2 dari total tanah seluas 3.500 m2

Koleksi

Museum Tembi mempunyai koleksi peralatan tradisonal masyarakat Jawa antara lain : (peralatan dapur, bala pecah, alat pertania dsb), foto dokumentasi siklus hidup masyarakat Jawa (mitoni, tedhak siten, tetakan, supitan, manten, kematian dan sesajen); foto dokumentasi video pertunjukkan seni tradisional masyarakat Jawa (wayang, kethoprak, campursari, gejog lesung, tari, ndolalak, keroncong dsb); persenjataan tradisional (keris, cundrik, tombak, dan pedang sejumlah kurang lebih 300 buah); seperangkat gamelan selendro pelog dari perunggu dan sekotak wayang kulit; buku-buku dan naskah jawa. Dari sekian banyak koleksi yang banyak adalah keris dari jaman Pejajaran.Koleksi unggulan adalah Tombak Pancasula, tombak dengan landean/pegangan pendek.Bahan tombak adalah besi aji pamor meteor dengan perpaduan warna kelabu dan kuning, tombak ini berasal dari zaman Mataram Islam.Koleksi unggulan lainnya : keris carubuk, terbuat dari bahan besi aji pamor meteor; warna hitam berasal dari zaman Pejajaran.

Fasilitas Pendukung

Fasilitas Pendukung antara lain:

(1) pendapa tempat seminar, pernikahan, kesenian,

(2) perpustakaan : buku-buku budaya, naskah, kaset audio visual

(3) ruang galeri : dipakai untuk pameran lukisan, foto, karikatur barang kerajinan tangan

(4) genset, sound system : dipakai untuk pentas syuting

(5) dan pagelaran wayang kulit.

Pelayanan :Hari : Senin - Jum'at J a m : 09.00 - 16.00 wib

Alamat : Jalan Parangtritis Km. 8,4 Dusun TembiTimbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta 55188

Telephon/Fax0274) 368000, 368001, 368004


MUSEUM WAYANG KEKAYON
Satu lagi obyek wisata budaya dan pendidikan di Yogyakarta semakin lengkap dengan kehadiran museum Wayang Kekayon Yogyakarta. Museum yang terletak di jalan Raya Yogya-Wonosari Km 7 Yogyakarta diasuh oleh Yayasan Sosial Kekayon. Dengan arsitektur khas Jawa museum ini memberikan fasilitas auditorium dan ruang video untuk presentasi pagelaran wayang, selain terdapat kantin dan sarana cinderamata.Di komplek museum ini terdapat kebun dengan tanaman langka. Museum ini menyimpan berbagai wayang baik yang berasal dari Yogya, Solo, Bali, Madura dan wayang-wayang yang berasal dari Luar Negeri. Untuk umum Museum ini dibuka setiap hari Selasa s/d Minggu dari jam : 08.00 - 15.00 WIB . Kecuali hari Senin, tidak menerima pengunjung.


Geoteknologi mineral UPN
Alamat:Kompleks Kampus UPN "Veteran" Unit II Jalan Babarsari 2,Tambak Bayan Yogyakarta 55281,Telpon(0274) 485268,486991,pesawat 17,Pimpinan : Ir.Budiarto MT,Status Museum UPT UPN "Veteran " Yogyakarta , Jenis Museum : Museum khusus .
Riwayat Berdirinya : Museum Geoteknologi Mineral (GTM) UPN "Veteran",Yogyakarta diresmikan oleh Menhankam Jendral TNI Purn.Poniman pada tanggal 27 Pebruari 1988.Adapun ide pendirian museum itu diprakarsai oleh Profesor Drs.H.Bambang Soeroto.Mengingat Informasi Pemanfaatan kekayaan bumi pada waktu itu terbatas, maka muncul gagasan untuk memberikan gambaran tentang teknologi pemanfaatan sumber daya alam bagi pendidikan Masyarakat dalam rangka Tri Darma Perguruan Tinggi ..Museum Geoteknologi Mineral merupakan museum khusus tentang pengetahuan kebumian yang meliputi bidang geologi pertambangan dan perminyakan . di Yogyakarta.

MUSEUM PERGERAKAN WANITA INDONESIA MANDALA BHAKTI WANITATAMA

Riwayat BerdirinyaGedung Monumen Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia Mandala Bhakti Wanitatama didirikan dalam rangka memperingati Kongres Perempuan I pada tahun 1928 di Yogyakarta.Gagasan didirikannya monumen yang pertama kali diutarakan oleh Ibu Sri Mangunsarkoro pada Kongres wanita Indonesia tahun 1952 di Bandung. Monumen akan dibangun tidak berwujud tugu, namun berbentuk gedung dengan tujuan dapat digunakan untuk meningkatkan aktivitas kaum wanita yang berperan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pembangunan dilakukan secara bertahap disesuaikan dengan dana yang masuk. Peletakan batu pertama pembangunan gedung induk itu dilaksanakan bersama dengan peringatan 40 tahun "Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia" Peresmian Monumen Pergerakan Wanita Indonesia " dilakukan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 22 Desember 1983.Bangunan Gedung Monumen Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia Mandala Bhakti Wanitatama terletak di jalan Laksda Adisucipto 86-88.


Jam Kerja / Buka

Senin s.d. Kamis :pukul 08.00-13.00, Jum'at s.d. Sabtu : pukul 08.00-12.00 .

Tiket masuk Dewasa : 500

Anak-2 : 300

Rombongan dapat potongan 10 %

Sejarah Ringkas

Gedung Monumen Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia Mandala Bhakti Wanitatama didirikan dalam rangka memperingati Kongres Perempuan I tahun 1928. Pencetus didirikannya monumen ini pertama kali oleh Ibu Sri Mangunsarkoro pada kongres Wanita Indonesia tahun 1952 di Bandung. Monumen tersebut tidak berbentuk tugu namun berbentuk gedung, agar bisa digunakan untuk kegiatan kaum wanita dalam berbangsa dan bernegara.Pembangunan museum itu sendiri setelah mendapat rekomendasi dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dilahan tanah seluas 1,25 hektar yang terletak di Jl. Laksda Adisucipto. Oleh Ketua panitia Seperempat Abad Pergerakan Wanita Indonesia, Ibu Sri Mangunasarkoro, dan peletakan batu pertamanya oleh Ibu Sukanto selaku ketua Kongres I, pada tanggal 22 Desember 1953.Salah satu bagian dari gedung itu adalah Balai Srikandi yang penggunaannya diresmikan oleh Maria Ulfah pada tanggal 20 Mei 1956.Peletakan batu pertama dialksanakan bersmaan dengan peringatan 40 tahun Kesatuan Pergeraan Wanita Indonesia, serta peresmiannya dilakukan oleh Presiden Soehartopada tanggal 22 Desember 1983.BangunanBangunan Monumen diarsiteki oleh Ir. Oerip Djaya Santoso, yang berbentuk rumah Jawa dengan luas bangunan 225 m2 khusus untuk museum.KoleksiDalam museum itu terdapat lukisan para tokoh wanita, beragam pakain wanita, diorama, alat tulis, dan sebagainya, serta keseluruhan dari koleksi tersebut berjumlah 135 buah yang sudah berusia 49 tahun. Koleksi unggulannya adalah mesin ketik besi yang pernah digunakan oleh Ibu Sri Mangunsarkoro selaklu Ketua Panitia Seperempat Abad Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia.Fasilitas PendukungFasilitas pendukung yang ada di museum adalah ruang pertemuan (Balai Shinta, Kunhti, dan Utari) ruang penginapan (Wisma Sembodro dan Arimbi).
Alamat : Jalan Laksda Adisucipto 88 Yogyakarta Telepon : (0274) 587818, 513282, 548721

0 Comments:

Post a Comment

<< Home