Sunday, November 20, 2005

Jogja - Wisata 3

MUSEUM BATIK YOGYAKARTA
Museum Batik yang terletak di jalan Dr. Sutomo No.13 Yogyakarta, merupakan museum milik perorangan atas prakarsa keluarga Hadi Nugroho. Museum batik yang pernah mengalami pasang surut ini mempunyai beberapa koleksi :
* kain batik panjang
* kain sarung batik
* motif-motif kain batik
* peralatan untuk membatik.
Para wisatawan yang ingin melihat beberapa koleksi kain batik sampai yang bermutu tinggi bisa mengunjungi museum ini Kegiatan yang rutin Museum Batik Yogyakarta adalah pameran tetap di museum yang dibuka setiap hari Senin s/d Sabtu jam : 09.00 - 15.00. WIB. Hari Minggu dan hari besar tutup.Atas perhatian masyarakat luas, terutama wisatawan asing, yang tidak pernah berhenti mencari batik di Yogyakarta.


PROSES PEMBUATAN BATIK

Pakaian bermotif batik telah dijadikan sebagai pakaian resmi nasional dan dapat dipakai pula sebagai pakaian resmi dalam sebuah kegiatan pesta atau upacara. Batik sendiri memiliki banyak sekali motifnya yang dipengaruhi oleh latar belakang budaya dan adat istiadat dari sebuah daerah di Indonesia, jadi tidaklah heran bahwa batik adalah sebuah karya cipta peninggalan budaya yang hanya dimiliki bangsa Indonesia. Batik di berbagai daerah sangatlah beragam dan sangat dinamis dalam mengapresiasikan motif-motifnya ke lembaran kain sebagai medianya.Saat ini kita mengenal 3 cara/proses pembuatan batik yaitu :
  • proses dengan dilukiskan atau sering disebut batik tulis
  • proses dengan cap/stempel yang telah ada motif/gambarnya atau sering disebut batik cap
  • proses pembuatan batik yang sudah lebih modern yaitu batik yang dibuat menggunakan mesin sehingga dapat memproduksi dalam jumlah yang lebih besar.

Untuk mengetahui lebih jelas proses pembuatan batik khususnya batik tulis dan batik cap yang merupakan seni budaya yang harus dilestarikan.Proses pembuatan Batik Tulis Tangan:
  • Proses pertama-tama adalah membuat pola dasar atau motif gambar yang dikehendaki dengan pensil di atas kain-putih yang akan diproses menjadi sebuah kain bermotif batik.
  • Pada tahap berikutnya dimulai proses membatik pola dasar pada kain-putih dengan lilin(atau juga disebut malam) sesuai garis pensil dan ini dikerjakan dengan sebuah alat yang disebut canting yang dipegang tangan layaknya menulis dengan sebuah pena, proses ini dilakukan pada kedua sisi kain atau bolak-balik.
  • Selanjutnya memberi isian pada proses diatas dengan titik-titik dan gurat-gurat dengan lilin.
    Pada bagian-bagian yang akan tetap berwarna putih atau tidak berwarna sesuai warna kain-putih tersebut maka ditutup dengan lilin.
  • Setelah proses membatik yang pertama atau disebut pula warna pertama ini maka kain dicelupkan ke dalam warna pertama.Selanjutnya kembali ke proses membatik tahap berikutnya untuk menutup bagian-bagian yang akan tetap pada warna pertama dengan lilin.
    Dan kemudian mencelupkan kembali ke dalam warna kedua.
  • Setelah selesai membatik dan mewarna sesuai dengan motif yang telah dipolakan ke kain di atas maka proses berikutnya adalah meng”godog” (merebus) untuk menghilangkan semua lilin yang tadi dilukiskan/dibatikan dengan canting.Setelah kain kering diulang kembali membatik pada pola dasar dengan titik-titik dan mengulang menutup nomor 4. Menutup warna-warna pertama dan warna kedua, agar tidak terkena warna berikutnya.
  • Kembali proses pencelupan kedalam bak warna untuk memberi warna pada pola dasar dan kembali meng”godog” untuk menghilangkan semua lilin yang menempel dan proses akhir adalah menjemur kembali untuk mengeringkan kain batik sebelum dipakai atau dibentuk dalam sebuah pola pakain yang dikehendaki.

Proses pembuatan Batik Cap:

  • Pertama-tama membuat pinggiran dengan cap khusus yang telah ada pola/motif gambarnya dengan lilin pada kedua belah sisi kain-putih atau bolak-balik.
  • Berikutnya memberi lilin dasar dengan cap pola dasar dengan motif yang dikehendaki secara berulang-ulang sampai seluruh kain pada kedua sisi kain.
  • Dilanjutkan dengan memberi lilin berulang-ulang pada bagian-bagian yang akan tetap tinggal putih hingga selesai.
  • Setelah itu kain yang telah bermotif/gambar dari hasil proses cap tersebut dicelupkan kedalam warna sebagai warna dasar.
  • Langkah berikutnya setelah kain dikeringkan adalah menghilangkan lilin pada bagian-bagian tertentu untuk mendapatkan warna berikutnya, dan juga menutup warna dasar agar tidak terkena warna berikutnya.
  • Seperti halnya pada proses batik tulis, dalam proses akhir batik cap juga kembali pada proses pencelupan kedalam bak warna untuk memberi warna pada pola dasar dan kembali meng”godog” untuk menghilangkan semua lilin yang menempel dan proses akhir adalah menjemur kembali untuk mengeringkan kain batik sebelum dipakai atau dibentuk dalam sebuah pola pakaian yang dikehendaki.

MUSEUM SENI RUPA INDONESIA

MUSEUM HAJI WIDAYAT
Museum ini dikemas disebuah bangunan seluas 3.000 m2 yang terdiri dari 2 lantai, diatas tanah seluas 5.000 m2 serta masih ada sisa tanah yang belum dikelola seluas 2.500 m2. Museum ini terletak di Jl. Letnan Tukiyat, Sawit, Mungkid, Magelang Jawa Tengah, serta peresmiannya dilakukan oleh Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI pada tanggal 30 April 1994.
Museum H. Widayat adalah wujud nyata dari sebuah impian, obsesi, dan prestasi dari pelukis Widayat. Obsesinya adalah untuk mengabadikan karya pelukis muda dari Yogyakarta dari mahasiswa ASRI, STSRI"ASRI" atau ISI serta beberapa pelukis seusia dan seangkatan Widayat antara lain Fadjar Sidik, Bagong Kussudihardjo, Abdullah, Rusli, Sudarso, Kusnadi dan But Muchtar. Serta menyusul generasi seangkatan Subroto SM, cs.
Ibuku/My Mather (1953)
Ide untuk membuat museum ini setelah Widayat dari Jepang tahun 1962, setelah disana dia belajar keramik, gardening, ikebana, ide pemdirian musem ini pertama kali disodorkan oleh Fadjar Sidik.Awal mula didirikannya museum ini karena pada wktu itu lukisan karya mahasiswa ASRI seperti terabaikan sehingga mendorong Widayat dan Fadjar Sidik untuk melestarikan lukisan itu kembali.
Sebagai seorang pelukis dan pengajar mata kuliah seni lukis, Widayat pernah bilang bahwa hasil ujian, lukisan-lukisan yang baik akan diabadikan di museum. Dua ruang utama musem tersebut, lantai pertama digunakan untuk memajang sekitar 127 buah karya Widayat dari format terkecil 1 X 1 cm sampai dengan yang terbesar 450 X 500 cm. Sedang lantai dua untuk memajang lukisan serta grafis dan drawing yang berjumlah sekitar 138 buah.Pada lantai dua terdapat studio pribadi yang dilengkapi remote control untuk menaik turunkan kanvas secara elektronik (jika melukis di kanvas berukuran besar). Dibelakang bangunan utama sedang disiapkan Taman Patung. Di tempat inilah Widayatmenempatkan patung-patung out door koleksinya.Dari jendela di lantai atas, dapat dipandangi taman patung dan indahnya panorama hamparan sawah serta perbukitan menoreh disekitar Borobudur. Fasilitas pendukung yang sedang dipersiapkan adalah Ruang Audio Visual, Ruang Perpustakaan, Ruang Pameran.

Museum ini bernaung dibawah "Yayasan Museum H. Widayat" dengan tenaga-tenaga ahli penasehat, pengawas, dan dean kurator yang terdiri dari : H. Budiardjo, Bagong Kussudihardjo, Prof. Dr. Umar Kayam, Soedarso Sp, MA, Prof. But Muchtar, Kusnadi dan dr. Oei Hong Djien. Museum ini diarsiteki oleh Ir. Haji Eji Sukeji.Bunga SakuraAlamat :Jalan Letnan Tukiyat, Sawitan, Kota Mungkid, Magelang Jawa Tengah Telp./Fax/E-mail(0293) 788251, Magelang 56511mhw_widayat@yahoo.com

0 Comments:

Post a Comment

<< Home