Sunday, November 20, 2005

KABUPATEN PATI

KABUPATEN PATI

Kabupaten Pati adalah salah satu bagian dari 35 daerah Kabupaten / Kota di Jawa Tengah bagian timur, terletak diantara 110050' - 111015' Bujur Timur dan 6025' - 7000' Lintang Selatan.
Secara administratif kabupaten Pati berbatasan dengan :
1. Sebelah Timur : Laut Jawa dan Kabupaten Rembang
2. Sebelah Selatan : Kabupaten Blora dan Kabupaten Grobogan
3. Sebelah Barat : Kabupaten Kudus dan Kabupaten Jepara
4. Sebelah Utara : Laut Jawa dan Kabupaten Jepara

Wilayah secara administratif meliputi :
1. 21 Wilayah Kecamatan dan 405 Desa/ Kelurahan dengan luas areal total 149.119 Ha. Terdiri dari 58.460 lahan sawah dan 90.659 lahan bukan sawah.
2. Kecamatan yang paling luas adalah Kecamatan Sukolilo dengan luas 15.826 Ha dan Kecamatan yang paling kecil adalah Kecamatan Pati dengan luas 4.249 Ha, sedangkan Kecamatan dengan jumlah Desa terbanyak adalah Kecamatan Winong ( 30 Desa ) dan Kecamatan Gembong (11 desa)
3. Ibukota Kabupaten adalah Kota Pati

Kecamatan Di Kabupaten Pati adalah sebagai Berikut :
1. Kecamatan Batangan
2. Kecamatan Sukolilo
3. Kecamatan Gabus
4. Kecamatan Jakenan
5. Kecamatan Cluwak
6. Kecamatan Gunungwungkal
7. Kecamatan Gembong
8. Kecamatan Juwana
9. Kecamatan Margoyoso
10. Kecamatan Pati
11. Kecamatan Margorejo
12. Kecamatan Kayen
13. Kecamatan Tambakromo
14. Kecamatan Pucakwangi
15. Kecamatan Winong
16. Kecamatan Wedarijaksa
17. Kecamatan Tayu
18. Kecamatan Tlogowungu
19. Kecamatan Jaken
20. Kecamatan Juwana
21. Kecamatan Dukuhseti

Menurut cerita rakyat yang terdapat pada kitab Babat Pati dan dua pusaka yaitu "KERIS RAMBUT PINUTUNG DAN KULUK KANIRAGA" merupakan lambang kekuasan dan kekuatan yang juga merupakan simbol kesatuan dan persatuan. Barang siapa yang memiliki dua pusaka tersebut, akan mampu menguasai dan berkuasa memerintah di Pulau Jawa. Adapun yang memiliki dua pusaka tersebut adalah Raden Sukmayana penggede Majasemi andalan Kadipaten Carangsoka.Menjelang akhir abad ke XIII sekitar tahun 1292 Masehi di Pulau Jawa fakum penguasa pemerintahan yang berwibawa. Kerajaan Pajajaran mulai runtuh, kerajaan Singasari surut, sedang kerajaan Majapahit belum berdiri. Di Pantai utara Pulau Jawa Tengah sekitar Gujung Muria bagian Timur muncul penguasa lokal yang mengangkat dirinya sebagai adipati, wilayah kekuasaannya disebut Kadipaten.
Ada dua penguasa lokal di wilayah itu yaitu Penguasa Kadipaten Paranggaruda, Adipatinya bernama "Yudhapati" dengan wilayah kekuasaan meliputi sungai Juwana ke selatan, sampai pegunungan Gamping Utara berbatasan dengan wilayah Kabupaten Grobogan. Adipati Yudhapati mempunyai putra bernama Raden Jasari Penguasa Kadipaten Carangsoka, dengan adipatinya bernama "Puspa Andungjaya", wilaya kekuasannya terbentang dari utara sungai Juwana sampai Pantai Utara Jawa Tengah bagian Timur. Adipati Carangsoka mempunyai seorang putri bernama Rara Rayungwulan. Kedua Kadipaten tersebut hidup rukun dan damai, saling menghormati dan saling menghargai untuk melestarikan kerukunan dan memperkuat tali persaudaraan, Kedua Adipati tersebut bersepakat untuk mengawinkan putra dan putrinya itu. Utusan Adipati Paranggaruda untuk meminang Rara Rayungwulan telah diterima, namun calon mempelai putri minta bebana agar pada saat pahargyan boja wiwaha daup (resepsi) dimeriahkan dengan pagelaran wayang dengan dalang kondang yang bernama " Sapanyana ".Untuk memenuhi bebana itu, Adipati Paranggaruda menugaskan penggede kemaguhan bernama Yuyurumpung agul-agul Paranggaruda. Sebelum melaksanakan tugasnya, lebih dulu Yuyurumpung berniat melumpuhkan kewibawaan Kadipaten Carangsoka dengan cara menguasai dua pusaka milik Sukmayana di Majasemi. Dengan bantuan uSondong Majerukn kedua pusaka itu dapat dicurinya namun sebelum dua pusaka itu diserahkan kepada Yuyurumpung, dapat direbut kembali oleh Sondong Makerti dari Wedari. Bahkan Sondong Majeruk tewas dalam perkelahian dengan Sondong Makerti. Dan Pusaka itu diserahkan kembali kepada Raden Sukmayana. Usaha Yuyurumpung untuk menguasai dan memiliki dua pusaka itu gagal.
Walaupun demikian Yuyurumpung tetap melanjutkan tugasnya untuk mencari Dalang Sapanyana agar perkawinan putra Adipati Paranggaruda tidak mangalami kegagalan (berhasil dengan baik). Pada Malam pahargyan bojana wiwaha (resepsi) perkawinaan dapat diselenggarakan di Kadipaten Carangsoka dengan Pagelaran Wayang Kulit oleh Ki Dalang Sapanyana. Di luar dugaan pahargyan baru saja dimulai, tiba-tiba mempelai putri meninggalkan kursi pelaminan menuju ke panggung dan seterusnya melarikan diri bersama Dalang Sapanyana. Pahargyan perkawinan antara "Raden Jasari" dan "Rara Rayungwulan" gagal total. Adipati Yudhapati merasa dipermalukan, emosi tak dapat dikendalikan lagi. Sekaligus menyatakan permusuhan terhadap Adipati Carangsoka. Dan peperangan tidak dapat dielakkan. Raden Sukmayana dari Kadipaten Carangsoka mempimpin prajurit Carangsoka, mengalami luka parah dan kemudian wafat. Raden Kembangjaya (adik kandung Raden Sukmayana) meneruskan peperangan. Dengan dibantu oleh Dalang Sapanyana, dan yang menggunakan kedua pusaka itu dapat menghancurkan prajurit Paranggaruda. Adipati Paranggaruda, Yudhapati dan putera lelakinya gugur dalam palagan membela kehormatan dan gengsinya.
Oleh Adipati Carangsoka, karena jasanya Raden Kembangjaya dikawinkan dengan Rara Rayungwulan kemudian diangkat menjadi pengganti Carangsoka. Sedang dalang Sapanyana diangkat menjadi patihnya dengan nama " Singasari ". Untuk mengatur pemerintahan yang semakin luas wilayahnya ke bagian selatan, Adipati Raden Kembangjaya memindahkan pusat pemerintahannya dari Carangsoka ke Desa Kemiri dengan mengganti nama " Kadipaten Pesantenan dengan gelar "Adipati Jayakusuma di Pesantenan". Adipati Jayakusuma hanya mempunyai seorang putra tunggal yaitu "Raden Tambra". Setelah ayahnya wafat, Raden Tambra diangkat menjadi Adipati Pesantenan, dengan gelar " Adipati Tambranegara ". Dalam menjalankan tugas pemerintahan Adipati Tambranegara bertindak arif dan bijaksana. Beliau menjadi sosok agung yang sangat memperhatikan nasib rakyatnya, serta menjadi pengayom bagi hamba sahayanya. Kehidupan rakyatnya penuh dengan kerukunan, kedamaian, ketenangan dan kesejahteraannya semakin meningkat.
Untuk dapat mengembangkan pembangunan dan memajukan pemerintahan di wilayahnya Adipati Raden Tambranegara memindahkan pusat pemerintahan Kadipaten Pesantenan yang semula berada di desa Kemiri menuju ke arah barat yaitu, di desa Kaborongan, dan mengganti nama Kadipaten Pesantenan menjadi Kadipaten Pati.Dalam prasasti Tuhannaru, yang diketemukan di desa Sidateka, wilayah Kabupaten Majakerta yang tersimpan di musium Trowulan. Prasasti itu terdapat pada delapan Lempengan Baja, dan bertuliskan huruf Jawa kuna. Pada lempengan yang keempat antara lain berbunyi bahwa :
.................. Raja Majapahit, Raden Jayanegara menambah gelarnya dengan ABHISEKA WIRALANDA GOPALA pada tanggal 13 Desember 1323 M. Dengan patihnya yang setia dan berani bernama DYAH MALAYUDA dengan gelar RAKAI, Pada saat pengumuman itu bersamaan dengan pisuwanan agung yang dihadiri dari Kadipaten pantai utara Jawa Tengah bagian Timur termasuk Raden Tambranegara berada didalamnya. Raja Jayanegara dari Majapahit mengakui wilayah kekuasaan para Adipati itu dengan memberi status sebagai tanah predikan, dengan syarat bahwa para Adipati itu setiap tahun harus menyerahkan Upeti berupa bunga.
Bahwa Adipati Raden Tambranegara juga hadir dalam pisuwanan agung di Majapahit itu terdapat juga dalam Kitab Babad Pati, yang disusun oleh K.M. Sosrosumarto dan S.Dibyasudira, diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, 1980. Halaman 34, Pupuh Dandanggula pada : 12 yang lengkapnya berbunyi :
..............Tambranegara Pati "Sumewo" maring Majalengka. Brawijaya kedua, Majalengka adalah Majapahit .................
Tan alami pajajaran kendhih, keratonnya ing tanah Jawa angalih Majapahite, ingkang jumeneng ratu, Brawijaya ingkang kapih kalih, ya Jaka Pekik wasta, pufra Jaka Suruh, Kyai Ageng Pathi nama, Raden Tambranegara sumewa maring Keraton Majalengka.Tidak lama kemudian kerajaan-kerajaan Pajajaran kalah, Kerajaan tanah Jawa lalu pindah ke Majapahit, adapun yang menjadi rajanya adalah Brawijaya II, yaitu Jaka Pekik namanya, putranya Jaka Suruh.Pada waktu itu Kyai Ageng Pati, yang bernama Tambranegara menghadap ke Majapahit.

Catatan :
Untuk menelusuri Hari Jadi Kabupaten Pati, telah dibentuk Tim Penyusunan dan Penelitian Hari Jadi Kabupaten Pati dengan Surat Keputusan No. 003./869 tanggal 19 November 1992. Tim Penyusunan dan Penelitian bersepakat bahwa untuk penelitian Hari Jadi Kabupaten Pati berpangkal tolak dari beberapa gambar yang terdapat pada Lambang Daerah Kabupaten Pati yang sudah disyahkan dalam Peraturan Daerah No. 1 Tahun 1971 yaitu Gambar yang berupa : "KERIS RAMBUT PINUTUNG DAN KULUK KANIRAGA".

0 Comments:

Post a Comment

<< Home