Sunday, November 20, 2005

Kota Semarang - Pesta Rakyat

UPACARA-UPACARA TRADISIONAL


Dugder
Kata Dug der, nama upacara ini, diambil dari perpaduan bunyi bedug yang dipukul sehingga berbunyi dug, dug dan bunyi meriam yang mengikuti kemudian diasumsikan dengan der. Telah dilakukan sejak 1881, tradisi yang dikenal dengan dugder ini menjadi tanda bahwa bulan Ramadhan sudah menjelang karena dilaksanakan tepat satu hari sebelum bulan puasa. Beberapa hari sebelum acara ini berlangsung, biasanya, banyak pedagang yang telah menggelar dagangannya untuk menyambut pembeli pada saat acara ini dimulai. Ciri khas acara ini adalah Warak Ngendog yang dilestarikan hingga kini. Warak Ngendog adalah jenis binatang rekaan yang bertubuh kambing dan berkepala naga dengan kulit seperti bersisik dibuat dari kertas warna-warni. Pada masa sekarang, sebelum acara dibuka, dilakukan arak-arakan yang menampilkan Warak Ngendog dan pengantin Semarangan.

Pengantin Semarangan
Di masa lalu pengantin Semarangan ini disebut dengan Manten Kaji karena pria mengenakan sorban yang biasa dikenakan oleh haji. Tidak seperti pengantin Solo maupun Yogya, pada pengantin Semarangan ini keduanya mengenakan celana panjang komprang dengan payet di bagian bawahnya, sedang baju atasnya berupa baju berlengan panjang yang tertutup sampai ke leher. Dalam prosesinya, tidak ada acara injak telur atau lempar sirih tetapi iring-iringan rebana yang menyertai kedatangan pengantin pria. Setelah acara temu kedua mempelai didudukkan di pelaminan dan setelah 10 menit mempelai pria boleh meninggalkan pelaminan sementara mempelai wanita terus duduk sampai acara berakhir.

Ruwatan
Pada masa modern ini ternyata tradisi Ruwatan maasih diyakini masyarakat untuk membuang kesialan yang biasa menghambat langkah dalam hidup orang-orang yang tergolong dalam sukerta. Orang-orang sukerta ini, menurut cerita, adalah orang-orang yang akan dimangsa oleh Betara Kala. Untuk keluar dari Sukerta, seseorang harus diruwat. Dalam upacara ini para Sukerta disirami oleh sang dalang dan dilakukan pengguntingan rambut, yang kemudian dilarung ke laut. Dalang, yang kemudian menggantikan kisah wayang kulit mengenai kisah asal mula dijadikannya bocah Sukerta sebagai mangsa Betara Kala ini, bukan sembarang dalam dan harus menjalani tirakat sebelum memimpin upacara ini. Upacara yang dilakukan tiap satu Syura ini sekarang berlangsung massal dan diselenggarakan olehYayasan Permadani.

Ba’do Gablog
Upacara yang diselenggarakan di daerah Sodong, Mijen ini merupakan upacara tradisional di bulan Syawal pada hari jatuhnya ba’da kupat yaitu tanggal 6 Syawal. Upacara ini dilakukan untuk memohon berkah dan keselamatan Yang Maha Kuasa dengan membawa berbagai sesaji khususnya gablog yaitu ketupatj nasi yang besar.Sesaji yang dibawa oleh masing-masing penduduk di kumpulkan jadi satu dan kemudian diadakan doa bersama. Setelah doa bersama tersebut sesaji disantap bersama-sama.

KESENIAN

Gambang Semarangan
Kesenian ini merupakan perpaduan antara tari dengan diiringi alat musik dari bilah-bilah kayu dan gamelan Jawa yang biasa disebut “gambang”. Muncul pda event-event tertentu : Festival Dugderan, Festival Jajan Pasar. Gambang semarang telah ada sejak tahun 1930 dengan bentuk paguyuban yang anggotanya terdiri dari pribumi dan peranakan Cina dengan mengambil tempat pertunjukan di Gedung Pertemuan Bian Hian Tiong di Gang Pinggir.

Tari Semarangan
Tari Semarangan ini merupakan tari khas dari Semarangan yang ditarikan oleh dua orang putrid berpasangan. Tari yang sering ditampilkan dalam event-event seperti dugderan dan festival jajan tradisional ini sekarang dikembangkan oleh Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang.

Kethoprak
Kethoprak merupakan kesenian tradisional yang mengangkat cerita tentang babad Tanah Jawa. Sejarah yang dijadikan landasan cerita sering dibumbui dengan berbagai pemanis sehingga menjadi cerita yang enak dinikmati. Saat ini ketoprak sering ditampilkan di Taman Budaya Raden Saleh setiap malam Selasa Kliwon.

Wayang Orang
Semarang memiliki kelompok wayang orang yang terkenal sejak tahun 70-an. Pada waktu itu setiap malam kelompok ini menggung di Gedung Ngesti Pandowo yang berada satu komplek dengan GRIS. Setelah Gedung Ngesti Pandowo diambil oleh Pemerintah, kelompok wayang orang yang biasa manggung disana diberi tempat lain yaitu gedung kesenian di komplek Taman Majapahit dan manggung setiap malam dari pukul 20.00 WIB.

Wayang Kulit
Wayang kulit adalah wayang yang menggunakan wayang-wayang dari kulit dimainkan oleh seorang dalang dengan cerita yang sudah pakem sebagai mana dimainkan oleh wayang orang. Wayang kulit dimainkan setiap malam Jumat Kliwon di Taman Budaya Raden Saleh.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home