Saturday, November 19, 2005

Kotekan
Salah satu elemen yang menonjol dari musik gamelan Bali – khususnya orkes gong kebyar – adalah kotekan, irama interlocking cepat yang memungkinkan hampir semua komposisi kebyar. Kotekan menciptakan suara yang unik: satu kelompok gangsa (bronze metallophones) yang dipukul dengan stik kayu menghasilkan nuansa suara dengan nada yang lebih tinggi dari instrumen lain; reong, serangkaian gong-gong kecil yang dimainkan oleh empat musisi, menghasilkan nada tinggi tapi lembut (kompleks) dan warna suara khusus, dan instrumen-instrumen ini dituntun oleh sepasang drumer yang memainkan figurasi interlocking yang berbeda.

Kotekan Telu
Sementara dua jenis kotekan yang diterangkan diatas menggunakan teknik yang relatif sederhana untuk membagi sebuah figurasi – yaitu dengan mengisi kekosongan antar ketukan (nyong cag) atau mengalihkan sebuah nada dan nada tinggi setelah nada tersebut (nyok cok) – kotekan telu memungkinkan kombinasi yang lebih beragam, baik dalam irama ataupun melodi. Disini, secara literal, teknik aplikasi nada antara sangsih dan polo menjadi sangat penting.

Kotekan Empat
Dalam kotekan empat, para musisi akan lebih mampu melakukan penggabungan bagian polo dan sangsih menjadi figurasi kompleks. Disini, jarak figurasi adalah empat nada, dimana polo biasanya memainkan dua nada rendah dan sangsih memainkan dua nada tinggi.

Struktur Kotekan
Dalam pembahasan berikut ini tentang teknik-teknik khusus yang digunakan dalam kotekan, prinsip eloborasi melodi yang digambarkan diatas perlu diingat. Hal ini dimaksudkan agar hubungan figurasi melodi jelas, melodi tersebut selalu tampil bersama, dengan melodi pokok dinotasikan dibawah kotekan.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home