Saturday, November 19, 2005

Lapangan Puputan

Lapangan Puputan
: Denpasar
Lapangan Puputan Badung yang merupakan pusat keramaian di Denpasar. Puputan yang artinya "habis-habisan" dimana pada tahun 1906 ketika Belanda menyerbu Denpasar, rakyat Bali yang dipimpin oleh Raja Denpasar memilih untuk bertempur habis-habisan daripada menyerah terhadap Belanda. Kurang lebih 4,000 rakyat Bali termasuk Keluarga Raja Denpasar tewas dan sejak itu Belanda menguasai Bali. Untuk memperingati perang Puputan Badung maka didirikan Monumen Puputan Badung yang terletak di sebelah Utara lapangan. Monumen tersebut terdiri dari Raja, Ratu dan 2 orang putra raja. Lapangan ini tempat untuk rekreasi bagi masyarakat kota Denpasar .

Lembu Putih dan Gajah Taro(White Cow and Elephant Taro)
: Gianyar
Di Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Daerah Tingkat II Gianyar, kurang lebih 40 Km. Dari Kota Denpasar, ada sebuah hutan desa yang dihuni oleh sekelompok binatang sapi/lembu putih. Binatang ini sangat dikeramatkan dan disucikan oleh masyarakat sekitarnya maupun masyarakat Bali pada umumnya, karena binatang ini merupakan sarana pelengkap (saksi) upacara di Bali yaitu Ngasti (dan yang setingkat dengan upacara itu). Lembu Putih ini dibawa ke tempat upacara dan oleh penyelenggara upacara dituntun mengelilingi areal/tempat upacara mulai dari arah timur ke selatan dan seterusnya berkeliling sebanyak tiga kali, kemudian berakhir atau selesai di timur. Upacara ini disebut dengan Upacara Mepada (Maideran/Purwa Daksina). Setelah Upacara tersebut selesai Lembu Putih dikembalikan lagi ke hutan Desa Taro, tentunya sebelum dan sesudahnya telah disuguhi berbagai sesajian. Tetapi dengan keindahan alam pedesaan Taro yang sangat menarik, dewasa ini atas usaha seorang investor dan tentunya dengan persetujuan dari Pihak Pemerintah Daerah Tingkat II Gianyar, di sebelah areal hutan sapi/lembu putih Taro, juga telah dikembangkan sebuah atraksi wisata baru yaitu Trakking Gajah. Para wisatawan dapat menaiki gajah berkeliling hutan dengan melewati lorong / jalan setapak di sekitar Desa Taro. Bila diinginkan wisatawan dapat berenang (bermain di air) dengan gajah didalam kolam yang sudah tersedia.

Lingkungan Pura Agung Jagatnatha (Jagatnatha Temple)
: Buleleng
Kendatipun lingkungan Pura Agung Jagatnatha ini relatif baru, akan tetapi karena berdiri megah ditengah–tengah kota, lingkungan Pura ini cepat menarik wisatawan. Di saat odalan dan waktu bulan Purnama serta bulan mati (Tilem) bisa disaksikan umat Hindu termasuk anak-anak sekolah datang ke lingkungan Pura ini untuk bersembahyang dengan destar putih, baju putih dan selendang (saput) kuning untuk kaum pria, sedangkan kaum wanita menggunakan baju kuning atau putih dan selendang kuning atau putih. Pemandangan seperti ini sangat menarik karena ditengah hiruk pikuknya kehidupan kota, umat Hindu tidak pernah melupakan kewajibannya untuk bersembahyang.Suasana kota, lalu lintas, kebisingan, tidak mengurangi kekhusukan umat Hindu di dalam melakukan persembahyangan. Candi Bentar, Padmasana yang menjulang tinggi seakan-akan bersaing dengan menara Telkom yang juga menjulang tinggi sebagai lambang kemajuan teknologi di abad saat ini, tidak mengurangi keagungan Padmasana sebagai Singgasana Ida Sang Hyang Widhi Wasa.


Lingkungan Pura Beji (Beji Temple)
: Buleleng
Lingkungan Pura Beji merupakan sebuah lingkungan Pura untuk memuja Dewi Sri, sebagai Dewi yang dikaitkan dengan pertanian khususnya dipercayai sebagai Dewi yang menciptakan padi sebagai bahan makanan pokok. Lingkungan Pura ini juga dikenal sebagai lingkungan Pura Subak untuk Desa Adat Sangsit, dimana seluruh bagian lingkungan Raja dihiasi ukiran style Buleleng dalam bentuk tumbuh-tumbuhan yang merambat dan motif bunga yang mencirikan abad ke 15, jaman Raja Majapahit.Pada pintu gerbang lingkungan pura dihiasi dua ekor naga sebagai penjaga Pura. Daya tarik yang unik dari lingkungan pura ini adalah ukiran yang memenuhi semua bagian pura seakan-akan tidak satu tempat pura yang tidak dihiasi dengan ukiran. Ukiran ini dicat warna-warni sehingga lingkungan pura ini menjadi lebih unik lagi.Lingkungan Pura ini berlokasi di Desa Sangsit, Kecamatan Sawan Kabupaten Daerah Tingkat II Buleleng.

Lingkungan Pura Dalem Jagaraga(Jagaraga Temple)
: Buleleng
Lingkungan Pura Dalem Jagaraga, sebagai salah satu dari lingkungan Pura Kahyangan Tiga Adat Jagaraga, secara umum memiliki pola yang sama dengan lingkungan Pura Dalem lainnya di Bali yaitu lokasinya dekat kuburan, hiasan patung-patung yang berwajah seram dan menakutkan, antara lain patung Betara Durga. Lingkungan Pura Dalem ini memiliki keunikan tersendiri yaitu pahatan relief di tembok depan bagian luar lingkungan pura ini, yang melukiskan pertempuran pesawat udara model kuno di udara (dog fight), perampokan bersenjata, perahu, orang sedang minum bir, mobil model kuno. Keunikan-keunikan seperti inilah yang membuat pura ini terkenal dan banyak dipromosikan oleh para penulis buku panduan wisatawan (guide book).Lokasi Lingkungan Pura Dalem Jagaraga terletak di Desa Jagaraga, 11 km sebelah Timur Singaraja dipinggir jalan jurusan Singaraja Sawan. Desa Jagaraga juga terkenal dengan "Puputan Jagaraga"-nya dan sekaa Gong Kebyarnya dimana seniman almarhum "Gde Manik" berasal dari Desa ini.

Lingkungan Pura Madwe Karang(Madwe Karang Temple)
: Buleleng
Lingkungan Pura Maduwe Karang adalah salah satu lingkungan Pura di Bali yang telah dikenal wisatawan mancanegara sebelum Perang Dunia Kedua. Di Jaman itu wisatawan mancanegara datang ke Bali melalui laut di Pelabuhan Buleleng. Di tempat ini sambil menunggu angkutan umum para wisatawan mempergunakan waktu untuk mengunjungi Lingkungan Pura Beji di Desa Sangsit, Lingkungan Pura Maduwe Karang di Desa Kubutambahan.Lingkungan Pura ini terdiri dari tiga tingkat yaitu "Jaba Pura" di luar lingkungan pura atau "Jabaan", "Jaba Tengah", dan "Jeroan", bagian paling dalam adalah yang paling disucikan. Dua buah tangga batu menanjak menuju Jaba Pura, yang di bagian depannya dihiasi patung-patung batu padas, tiga puluh empat jumlahnya, yang diambil dari tokoh-tokoh dan adegan-adegan ceritera Ramayana.Patung yang berdiri di tengah-tengah memperlihatkan Kumbakarna yang sedang berkelahi dan dikeroyok oleh kera-kera laskar Sang Sugriwa. Yang unik, pada bagian dinding di sebelah utara terdapat ukiran relief orang naik sepeda yang roda belakangnya terdapat daun bunga tunjung. Daya tarik lain adalah pahatan Durga dalam manifestasinya sebagai Rangda, dalam posisi duduk dengan kedua lututnya terbuka lebar sehingga alat kelaminnya jelas kelihatan. Tangan kanannya diletakkan di atas kepala seorang anak kecil yang berdiri di sebelah lututnya, kaki kanannya diletakkan di atas binatang bertanduk yang sedang berbaring. Pada bagian lain dari dinding lingkungan pura ini terdapat pahatan seorang penunggang kuda terbang dan pahatan Astimuka. Tokoh ini dilukiskan sama dengan Sang Hyang Gana (Ganesha), yakni dewa dengan muka gajah. Kungkungan Pura Maduwe Karang ini terletak di Desa Kubutambahan, 12 km sebelah Timur Singaraja.

Lingkungan Pura Penataran Sasih(Penataran Sasih Temple)
: Gianyar
Benda-benda peninggalan jaman kuno di Bali yang berada di Desa Pejeng ada sekitar enam puluh persen. Patung-patung tua dan pusaka-pusaka bersejarah telah tersimpan di setiap lingkungan pura di Desa Pejeng. Nekara Perunggu yang tersimpan di lingkungan Pura Penataran Sasih adalah merupakan salah satu peninggalan jaman kuno "Pra Hindu". Lingkungan pura ini berlokasi di tengah-tengah Desa Pejeng di tepi jalan raya menuju Tampak Siring. Lingkungan Pura Penataran Sasih hingga saat ini telah banyak dikunjungi oleh para wisatawan mancanegara, baik untuk tujuan melihat-lihat maupun untuk penelitian.

Lingkungan Pura Ponjok Batu(Ponjok Batu Temple)
: Buleleng
Lingkungan Pura Ponjok Batu merupakan sebuah tanjung yang terdiri atas bebatuan dimana dari celah–celah batu tersebut tumbuh pohon Kamboja dan semak yang sangat indah. Dalam bahasa Bali "Ponjok Batu" berarti Tanjung Batu. Lingkungan Pura ini merupakan lingkungan Pura tempat pemujaan/tempat persembahyangan umum untuk mohon keselamatan.Dari depan lingkungan pura yang dibatasi jalan raya menuju Amlapura terlihat pemandangan Laut Jawa yang terbentang luas, yang dapat menimbulkan ketenangan jiwa dan menumbuhkan inspirasi bagi pengunjungnya. Laut yang tenang yang ditumbuhi beberapa pohon tua di sekitar bukit menambah keindahan lokasi lingkungan Pura. Beberapa sumber air bertebaran di sekitar lokasi, dan penduduk setempat memanfaatkannya untuk keperluan sehari-hari. Lingkungan Pura ini terletak lebih kurang 24 km di sebelah Timur Singaraja, terletak di pinggir pantai dan di atas sebuah ketinggian, termasuk wilayah Desa Pacung Kecamatan Tejakula. Disamping karena keindahan alam, arsitektur lingkungan Pura juga mencerminkan gaya khas yaitu seluruh bangunan terbuat dari susunan batu batu alam yang terdapat di sekitar lokasi sangat menarik wisatawan.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home