Sunday, November 20, 2005

Profol Jogja 3

KOTA PELAJAR DAN PUSAT PENDIDIKAN
Pendidikan sebagai investasi sumber daya manusia, bagaimanapun, selalu bersentuhan dengan kebutuhan siswa/mahasiswa sebagai manusia maupun sebagai peserta didik. Dalam kaitan ini, terdapat beberapa lapangan usaha yang selalu inheren dengan kebutuhan pendidikan itu sendiri, seperti penyewaan rumah/kamar, toko buku dan stationary, toko pakaian, rumah/warung makan, dan jenis hiburan lainnya. Tidak ada satu sumber yang menyebutkan seberapa besar pengaruh pendidikan pada berbagai lapangan usaha tersebut. Oleh karenanya, gambaran tentang peran nyata pendidikan pada pertumbuhan ekonomi daerah lebih tampak pada munculnya berbagai jenis usaha penunjang pendidikan. Dengan julukannya sebagai kota pendidikan, di kota Yogyakarta terdapat berbagi jenis usaha yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Usaha sewa kamar atau yang lebih dikenal dengan istilah rumah kost merebak di hampir setiap rumah, baik yang berbentuk asrama (putra/putri) maupun berbentuk kost yang menyatu dengan rumah induknya. Dilihat dari fasiltasnya, terdapat beberapa 'klas' usaha rumah kost. Dari yang paling sederhana (kamar kosongan) sampai dengan yang paling mewah (dengan fasilitas kamar mandi, televisi, dan telepon per kamar). Dilihat dari segi manajemen, hampir semua usaha kost ini bersifat informal. Tidak ada standar harga yang seragam. Harga cenderung dipengaruhi oleh lokasi kost terhadap pusat-pusat pertumbuhan, seperti lokasi sekolah/perguruan tinggi, areal pertokoan dan lain-lain.
Dari keberadaan rumah kost inilah berbagai lapangan usaha baru biasanya diciptakan. Di sekitar lokasi kost umumnya terdapat warung-warung makan sederhana, jasa pencucian dan binatu. Dengan semakin banyaknya usaha warung makan, suhu persaingan antar warung makan juga semakin terlihat. Usaha untuk memperkuat daya saing tiap warung makan umumnya diwujudkan dengan memberikan berbagai fasilitas kenyamanan, seperti pola self-service, minuman mineral yang memberikan secara gratis, fasilitas televisi dan surat kabar di ruang makan dan sebagainya. Sementara itu, dengan semakin banyaknya rumah kost, akhir-akhir ini muncul pula usaha jasa kost, yaitu usaha-usaha informasi tentang rumah/kamar kost yang belum dihuni. Berkaitan dengan kebutuhan bacaan, alat-alat tulis dan peraga pendidikan, terdapat cukup banyak toko-toko buku dan alat tulis. Disamping itu, terdapat pula usaha informal kegiatan pendidikan, misalnya produksi rak-rak/almari buku, meja-kursi belajar. Produk-produk yang berbahan baku kayu ini dikemas secara sederhana, dan terpampang dipinggiran jalan di sekitar lokasi sekolah, seperti di sekitar jalan Samirono, disekitar ringroad, dan lain-lain.Seiring dengan era komputerisasi, usaha penyewaan komputer menjamur di hampir setiap sisi kehidupan mahasiswa. Usaha yang umumnya dikelola oleh mahasiswa ini biasanya menawarkan jasa penyewaan, pengetikan, pencetakan, olah data, serta yang terakhir ini juga marak adalah 'warnet' atau warung internet dengan sewa perjamnya yang bervariasi dan memberikan pelayanan yang cukup memuaskan bagi pelanggannya. Suhu persaingan antar penyewaan biasanya mengacu pada kehandalan mesin yang disewakan, disamping adanya berbagai fasilitas seperti minuman gratis, kopi gratis (bagi yang lembur) dan harga khusus untuk penyewaan malam hari.Usaha lain di bidang pendidikan yang amat menyolok adalah pada usaha jasa pendidikan itu sendiri. Berbagai kursus, les privat, dan lembaga pendidikan memperkukuh basis pendidikan kota ini. Hal menarik dari pertumbuhan lembaga pendidikan ini adalah semakin banyaknya jenis jasa pendidikan yang ditawarkan. Keberlimpahan ini semestinya menjadi faktor pendukung tersendiri dalam upaya meningkatkan ketrampilan siswa didik. Sebab pendidikan formal, bagaimanapun, tidak akan sepenuhnya mampu memikul fungsi-fungsi utama pendidikan nasional.
Antara awal tahun 1946 hingga akhir tahun 1949, selama lebih kurang 4 tahun , Yogyakarta menjadi Ibukota Negara Republik Indonesia . Pada masa itu para pemimpin bangsa Indonesia berkumpul di kota perjuangan ini. Seperti layaknya sebuah ibukota suatu negara, Yogyakarta pun memikat kedatangan kaum remaja dari seluruh penjuru tanah air.Mereka ingin dapat berpartisipasi dalam pembangunan negara yang baru saja merdeka ini. Namun untuk dapat membangun suatu negara dengan baik diperlukan tenaga-tenaga ahli, terdidik dan terlatih. Dan oleh karenanya , Pemerintah RI kemudian mendirikan Universitas Gadjah Mada, Universitas negeri pertama.Selanjutnya diikuti pula dengan pendirian akademi dibidang kesenian (Aka-demi Seni Rupa Indonesia dan Akademi Musik Indo-nesia ), serta sekolah tinggi dibidang agama Islam(Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri, Sekarang IAIN Sunan Kalijaga).Pada waktu-waktu selanjutnya , berbagai jenis lembaga pendidikan negeri maupun swasta bermunculan di Yogyakarta , sehingga dapat dikatakan hampir tidsk sds csbsng ilmu pengetahuan yang tidak diajarkan dikota ini. Hal ini telah menjadikan Yogyakarta tumbuh sebagai kota pelajar dan pusat pendidikan.



PUSAT KEBUDAYAAN
Pada hakekatnya, seni budaya yang asli dan indah , selalu terdapat didalam lingkungan istana Raja dan di daerah-daerah sekitarnya . Sebagai bekas suatu Kerajaan yang besar , maka Yogyakarta memiliki kesenian dan kebudayaan yang tinggi dan bahkan merupakan pusat serta sumber seni budaya Jawa.Banyak peninggalan seni-budaya yang masih dapat disaksikan di monumen dan candi-candi , istana Sultan yang masih berkaitan dengan kehidupan istana. Kehidupan seni budaya di Yogyakarta tampak masih berkembang pada kehidupan seni tari dan kesenian lainnya.Nilai-nilai budaya masyarakat Yogyakarta , terungkap pula pada bentuk arsitektur rumah penduduk, dengan bentuk joglonya yang banyak dikenal masyarakat di seluruh Indonesia.Seniman - seniman terkenal dan seniman besar yang ada di Indonesia saat ini, banyak yang dididik dan digembleng di Yogyakarta. Sederetan nama seperti Affandi, Bagong Kussudiharjo, Edhi Sunarso, Saptoto, Wisnu Wardhana , Amri Yahya, Budiani,W.S. Rendra, Kusbini, Tjokrodjijo, Basijo, Kuswadji K, Sapto Hudoyo , Ny. Kartika dan lain-lain merupakan nama-nama yang ikut memperkuat peranan Yogyakarta sebagai Pusat Kebudayaan.


YOGYAKARTA SEBAGAI DAERAH TUJUAN WISATA
Pada masa sekarang , seluruh predikat Yogyakarta itu luluh menjadi satu dan berkembang menjadi satu dimensi baru : Yogyakarta sebagai Daerah Tujuan Wisata . Keramahan yang tulus, khas yogyakarta, akan menyambut para wisatawan disaat wisata datang , sedang kemesraan yang dalam akan mengiring , disaat mereka meninggalkan Yogyakarta, dengan membawa kenangan manis yang tidak akan mereka lupakan sepanjang masa.Peranannya sebagai kota perjuangan , daerah pelajar dan pusat pendidikan , serta daerah pusat kebudayaan , ditunjang oleh panoramanya yang indah , telah mengangkat Yogyakarta sebagai Daerah yang menarik untuk dikunjungi dan mempesona untuk disaksikan.Yogyakarta juga memiliki berbagai fasilitas dengan kwalitas yang memadai dan tersedia dalam jumlah yang cukup. Kesemuanya itu akan bisa memperlancar dan memberi kemudahan bagi para wisatawan yang berkunjung ke Yogya.Sarana-sarana transportasi, akomodasi dan berbagai sarana penunjang lainnya, seperti santapan makan-minuman yang lezat , serta aneka ragam barang cindera mata, mudah diperoleh dimana-mana.



Poros Imajiner: Identitas Historis Kota Yogyakarta( Krapyak - Keraton - Tugu Poros bagi Yogya )
Monumen penting Yogyakarta bukanlah bangunan monumental yang megah, melainkan poros historis filosofis Krapyak-Keraton-Tugu. Pada umumnya warga Yogyakarta sudah memahami maknanya, struktur kota memiliki filosofis simbolis yang berdasar pada garis imajiner Gunung Merapi-Tugu-Keraton - Panggung Krapyak-Laut Selatan. Keraton Yogyakarta dikelilingi Beteng Baluwarti. Secara historis kultural, bangunan-bangunan itu berorientasi pada keberadaan keraton dan garis imajiner, baik di dalam maupun di luar beteng.Yogyakarta pada umumnya memiliki empat komponen utama. Bentuk seperti ini disebut caturgatra tunggal atau empat komponen dalam suatu kesatuan. Keempat komponen itu adalah keraton, masjid, alun-alun, dan pasar. Kawasan Jeron Beteng yang dikelilingi Beteng Baluwarti -artinya beteng pagar bata- mempunyai lima pintu gerbang yang disebut plengkung. Nama-nama kampung di Jeron Beteng amat lekat dengan Keraton Yogyakarta. Nama-nama itu biasanya menunjuk pada nama abdi dalem keraton yang tinggal di situ. Banyak pusaka budaya dan pusaka alam yang berharga, seperti Keraton dan taman sari.
Kelengkapan fisik, sarana, prasarana, estetik, etik, simbol, dan filosofis-religius eksistensinya mempunyai koherensi dengan berbagai rancangan sebagaimana fungsi dan maknanya. Ciri-ciri dan makna tersebut pada dasarnya melekat dalam elemen bangunan, ruang suatu bangunan, bangunan, kelompok bangunan, maupun lingkungannya.Yogyakarta sebagai kota yang mempunyai ciri khas dan keunikan, secara khusus mempunyai struktur bermakna filosofis-simbolis, yaitu berdasarkan garis imajiner (G. Merapi-Tugu- Keraton-Panggung Krapyak (Laut selatan ) .
Garis poros di dalam tata rakit keraton tersebut konfigurasi fisiknya merupakan suatu bagian dari tata Kota Yogyakarta. Secara historis-kultural bangunan-bangunan yang ada berorientasi pada keberadaan keraton, yaitu berada di dalam benteng dan lingkungan sekitarnya, bangunan yang ada bercorak arsitektur jawa berupa joglo, limasan, kampung . Penggalian pusaka Jeron Beteng, di Yogyakarta sebagai pelestarian peninggalan budaya untuk memperluas makna keraton sebagai simbol penting dari peninggalan budaya Kesultanan Yogyakarta. Dari segi sejarah akan menarik lebih banyak wisatawan yang berkunjung di Indonesia .
Proses interaksi sosial budaya masyarakat di dalam kota melahirkan kompleksitas produk budaya, baik budaya material (material culture) maupun budaya hidup (living culture) yang berupa pranata sosial, seni, adat-istiadat, etik, estetik, dan filosofis-religius. Wujud kompleksitas produk budaya pada satu sisi akan dijiwai dan sesuai dengan konteks, langgam, dan ikatan budayanya, di sisi lain juga memunculkan kemajemukan atau keragaman tinggalan budaya.Poros panggung Krapyak-KratonSecara lengkap struktur tata rakit bangunan Keraton Yogyakarta membujur dari arah selatan (Panggung Krapyak) ke Keraton (arah utara) dihubungkan dengan jalan lurus (Jl DI Panjaitan, dahulu Jl Gebayanan) dan untuk ke dalam benteng keraton dihubungkan dengan Gerbang Nirboyo (Plengkung Gading)-Alun-alun selatan (Pungkuran) Siti Hinggil selatan (sejak 1955 sampai sekarang Sasono Hinggil Dwi Abad)-Regol Gadung Mlathi-Regol Magangan.
Secara filosofis-simbolis tata rakit bangunan tersebut melambangkan perjalanan atau proses kehidupan manusia dari kandungan, lahir, sampai dengan aktivitas hidupnya (magang). Di sebelah utara Regol Magangan adalah Kedaton, yang mempunyai makna keberadaan manusia. Di sepanjang kiri-kanan jalan dari Krapyak ke Keraton dilengkapi pepohonan khas yang mempunyai makna tertentu, antara lain, asem, garam, jambu dersono, kweni, beringin dan sawo kecik. Vegetasi yang khas tersebut-terutama pohon sawo kecik-juga menjadi ciri bagi dalem-dalem bangsawan. Keraton dikelilingi oleh benteng baluwarti (bagian paling luar) dan cepuri (bagian dalam) atau mengelilingi dalem Kedaton. Untuk memasuki benteng Keraton ada 5 (lima) gerbang utama, yaitu Gerbang Nirbaya, Jagabaya, Jagasura, Tarunasura, dan Madyasura serta jejalur dan simpul-simpul jalan yang mendukung komunikasi dan transportasi antar kawasan. Kondisi lingkungan di kawasan selatan Keraton dan di dalam benteng saat ini masih menampakkan ciri-ciri yang serasi dengan keberadaan Keraton, proses perubahan dan perkembangan yang terjadi tidak secara drastis. Pola perkampungan tradisionl masih terlihat, kondisi tersebut memperkuat kekhasan toponim kampung yang masih ada keterkaitan dengan tata rakit Keraton.Poros Siti Hinggil Keraton-Tugu Antara keraton dan tugu dihubungkan dengan jalan lurus (Jl Letjen Achmad Yani, dahulu Jl Margamulya, Jl Malioboro, Jl P Mangkubumi, dahulu Jl Margatama) yang membujur dari selatan ke arah utara. Di sepanjang jalan tersebut ada beberapa bangunan yang merupakan tinggalan struktur kota lama, antara lain: dalem Kepatihan (sekarang Kantor Gubernur) dan Pasar Beringharjo. Di samping itu, di dalam proses interaksi budaya dengan komunitas asing (Eropa) melahirkan keragaman produk budaya berupa bangunan-bangunan era-kolonial bercorak indis, antara lain: Gedung Agung, Vredeburg, Nilmij (sekarang Bank BNI), Hotel Garuda, dan Hotel Tugu. Di samping itu, juga komunitas pecinan di sekitar Pasar Beringharjo-Malioboro, antara lain: kawasan Ketandan, Gandekan, Bekalan, dan Pajeksan.Secara historis-kultural dari Siti Hinggil (Keraton) raja (sultan) duduk (lenggah siniwoko) konsentrasi ke arah utara dari Alun-alun sampai dengan puncak Tugu. Jalan poros Siti Hinggil (Keraton) sampai dengan Tugu secara historis merupakan simbol kesempurnaan keberadaan raja di dalam proses kehidupannya yang dilandasi manembah kepada Yang Maha Tinggi serta satu tekad dengan rakyatnya (golong-gilik). Hal itu dilakukan setelah mampu melakukan transendensi tantangan hidup duniawi, yaitu manunggalnya raja-rakyat (makna beringin kurung di Alun-alun), tantangan ekonomi (dilambangkan dengan pasar), godaan kekuasaan (dilambangkan kepolisian), dan pengaruh asing (Benteng Vredeburg), (Brongtodiningrat, 1975).Perlu diketahui, bahwa bentuk Tugu masa Sultan Hamengku Buwono I sampai VI melambangkan makna golong-gilik (satu tekad) antara raja-rakyat, yaitu bagian puncak bulatan (golong) dan bagian bawah berbentuk silindris (gilik). Tugu tersebut kemudian runtuh akibat adanya gempa bumi tektonik di Yogyakarta pada tanggal 10 Juni 1867, hal ini ditandai dengan surya sengkala Hargo Molah Dening Sanghyang Naga Bumi. Bentuk Tugu seperti sekarang adalah hasil renovasi masa Sultan Hamengkubuwono VII pada tahun 7 Sapar 1819 (3 Oktober 1889).Kondisi lingkungan saat ini-dilihat dari aktivitas-aktivitas masyarakat di kawasan itu-menampakan tarik menarik kepentingan antara aspek sosial, ekonomi, tata kota dan nilai kultural. Lingkungan yang menjadi tempat sarat beban dan tarik menarik kepentingan ini mengalami perubahan dan perkembangan yang cepat.Poros Tugu-Keraton-Panggung Krapyak pada dasarnya merupakan kawasan urban yang mempunyai beberapa komponen yang signifikan bagi masyarakat. Secara historis kawasan tersebut juga merupakan kawasan yang tumbuh, berkembang, dan berinteraksi secara berkelanjutan. Di dalam konteks kekinian, bahwa kawasan urban tersebut dapat membangun gambaran (image) bagi masyarakat luas. Komponen kawasan yang dapat membangun citra maupun gambaran tersebut memiliki ciri khas dan keunikan, baik jejalur (paths), batas-batas wilayah (edges), segmen kawasan (districs), simpul (nodes), dan landmark (tanda fisik kawasan yang menonjol).Nilai historis-kultural, filosofis, dan arsitektural "Poros Imajiner" tersebut merupakan identitas yang mempunyai karakter dan potensi. Keberadaan lingkungannya perlu terus dilindungi, oleh undang undang sehingga keberadaan poros dan produk budaya yang ada tetap "monumental" dan menjadi "daya-magnet" bagi Kota Yogyakarta.
Penciptaan poros imajiner ini selaras dengan konsep Tri Angga (Parahyangan, Pawongan, Palemahan atau Hulu, Tengah, Hilir serta nilai Utama, Madya, Nisha). Secara simbolas filosofis poros imajiner ini melambangkan keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhannya (Hablun min Allah), manusia dengan manusia (Hablunmin Annas) maupun manusia dengan alam termasuk lima anasir pembentuknya yakni api (dahana) dari gunung Merapi, tanah (bantala) dari bumi Yogyakarta dan air (tirta) dari laut Selatan, angin (maruto) dan akasa (either).Adapun filosofi Panggung Krapyak ke Utara merupakan perjalanan manusia sejak dilahirkan dari rahim ibu, beranjak dewasa, menikah sampai melahirkan anak (Brotodiningrat 1978). Visualisasi dari filosofi ini diwujudkan dengan keberadaan kampung Mijen di sebelah utara Panggung Krapyak yang melambangkan benih manusia, pohon asem (tamarindus indica) dengan daun yang masih muda bernama sinom melambangkan gadis yang masih anom (muda) selalu nengsemaken (menarik hati) maka selalu disanjung yang divisualisasikan dengan pohon tanjung (mimusopselengi).
Di alun-alun selatan mengggambarkan manusia dewasa dan sudah wani (berani) meminang gadis karena sudah akilbaligh yang dilambangkan dengan pohon kweni (mangifera odoranta) dan pohon pakel. Masa muda yang mempunyai jangkauan jauh ke depan divisualisasikan dengan pagar ringin kurung alun-alun selatan yang seperti busur panah. Masa depan dan jangkauan para kaum muda dilambangkan panah yang dilepas dari busurnya.Sampai di Sitihinggil selatan pohon yang ditanam pelem cempora (mangifera indica) yang berbunga putih dan pohon soka (ixora coccinea) yang berbunga merah yang menggambarkan bercampurnya benih laki-laki (dilambangkan warna putih) dan benih perempuan (dilambangkan warna merah). Di halaman Kamandhungan menggambarkan benih di dalam kandungan dengan vegetasi pohon pelem (mangifera indica) yang bermakna gelem (kemauan bersama), pohon jambu dersono (eugenia malaccensis) yang bermakna kaderesan sihing sasama dan pohon kepel (stelechocarpus burahol) yang bermakna kempel, bersatunya benih karena kemauan bersama didasari saling mengasihi.Melalui Regol Gadhung Mlathi sampailah di Kemagangan yang bermakna bayi telah lahir dan magang menjadi manusia dewasa. Sebaliknya dari tugu pal putih ke arah selatan merupakan perjalanan manusia menghadap Sang Khalik. Golong gilig melambangkan bersatunya cipta, rasa dan karsa dilandasi kesucian hati (warna putih) melalui Margotomo (jalan menuju keutamaan) ke selatan melalui Malioboro (memakai obor atau pedoman ilmu yang diajarkan para wali), terus ke selatan melalui Margomulyo (jalan menuju kemuliaan), kemudian melalui Pangurakan (mengusir nafsu yang negatif). Sepanjang jalan Margotomo, Malioboro dan Margomulyo ditanam pohon asem (tamarindus indica) yang bermakna sengsem atau menarik dan pohon gayam (inocarpus edulis) yang bermakna ayom atau teduh.


Brand Jogja "Never Ending Asia"
Jogja Never Ending Asia ditetapkan sebagai Brand Image Propinsi DIY yang didesain penuh makna menempatkan posisi baru Yogyakarta sebagai " Experience that never end in Asia". Visinya adalah untuk menjadikan Yogyakarta "the leading economic region in asia for trade, tourism, and invesment in five years".
Sedangkan misinya yaitu untuk menarik memberikan kepuasan dan mempertahankan perdagangan, wisatawan, investor, pengembang dan organisasi dari seluruh dunia untuk tetap berada di Yogyakarta. Dengan brand image ini, Yogyakarta akan merangkul dunia dan dunia akan secara antusias disambut di Yogyakarta (Jogja shall intimately embrance the world and the world will anthusiastically welcome Jogja)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home